Posts Tagged ‘I Care’

SIRKUS DIANTARA TUMPUKAN KERANG

Posted: May 14, 2012 in Uncategorized
Tags:

Teks: Vera Waloeyo
Foto: Adi Nugroho

Bau amis menusuk dari tumpukan kulit kerang hijau di Kampung Nelayan Cilincing, Jakarta Utara. Perkampungan itu pun bagaikan sebuah rumah singgah bagi ribuan lalat yang beterbangan hampir di setiap langkah. Semua warga tinggal di dalam rumah yang sangat kecil dan dipisahkan oleh gang sempit. Lingkungan mereka juga dikelilingi oleh laut, tempat pengeringan ikan asin dan tempat kapal rusak. Sebuah gambaran memilukan di salah satu sudut Jakarta sementara mantan Gubernur Sutiyoso sempat sibuk berkonsentrasi menjadikan Jakarta sebagai kota megapolitan. Bagi sebuah keterpaksaan untuk menghidupi kebutuhan sehari-hari, mungkin hal itu bisa ditolerir, tapi bagaimana jika tempat seperti ini menjadi tempat belajar bagi anak-anak?

Suasana perkampungan Cilincing

Inikah perkampungan yang dijadikan tempat belajar sirkus? Adakah yang berminat belajar sirkus di tempat dan keadaan seperti ini?” Pertanyaan-pertanyaan inilah yang sempat mengganggu hingga akhirnya Dan Roberts, seorang warga kebangsaan Amerika Serikat dengan lincahnya mengajak kami menulusuri setiap gang menuju tempat belajar bermain sirkus. “Kadieu, neng. Awas kotor”, tandas salah seorang penduduk pada saya yang tampak masih sedikit enggan berdamai dengan keadaan.

 

Gambaran kehidupan warga Cilincing

Dari kejauhan terlihat sekumpulan anak-anak berusia 9-14 tahun menyambut Dan Roberts yang membawa beberapa alat bermain sirkus. Kegiatan ini rutin dilakukan setiap Senin, Rabu dan Jumat mulai pukul 10.00 hingga 14.00. Tanpa komando, anak-anak tersebut langsung berlatih lempar bola, gelang, tongkat, piring, juggling dan aksi lainnya. Tawa lepas dan riang pun terpancar pada setiap wajah polos mereka. Pemandangan yang sangat mengharukan jika menengok kembali lingkungan perkampungan mereka yang sangat dekat dengan definisi kumuh.

Saat pertama datang ke kampung ini, semua orang berteriak hei bule..hahaha mau kemana, mister? Sebenarnya saya sedikit tersinggung. Tapi saat kedua kalinya datang dengan mengenakan pakaian badut dan bola merah di hidung, semua orang tertawa riang dan bermain bersama saya. Hidung merah inilah yang menyatukan kami,” tandas Dan Roberts yang mengenyam pendidikan SMP dan SMA di Jakarta International School sebelum akhirnya menjadi pemain sirkus profesional di Chicago, AS. Dan Roberts memulai Hidung Merah Circus pada Februari 2008 sebagai sebuah ekspedisi untuk Lembaga Swadaya Masyarakat yang diakui dunia internasional Clowns without Borders setelah melakukan kunjungan ke beberapa kampung di Jakarta.

Kak Dan (begitu anak-anak memanggil Dan Roberts) ayo main,” sahut Wisnu dengan riang. “Iya, Mas Dan, kita bermain dan memakai hidung merah ini,” tambah AMICA yang sangat senang bermain dengan anak-anak tersebut. Kak Dan pun mulai menemani anak-anak bermain sembari mengajari mereka membaca novel-novel yang disediakan. “Senang rasanya melihat mereka menikmati aktivitas ini. Di Amerika banyak sekali yayasan-yayasan semacam ini, tapi di Indonesia sangatlah jarang. Itu sebabnya saya berada di sini dan melakukannya dengan ikhlas demi anak-anak,”jelas pria berusia 25 tahun ini.

Meski peluh terlihat jelas di wajahnya, kak Dan tetap antusias bermain bersama mereka. Kak Dan juga berharap suatu saat akan ada penerusnya yang mampu mengajari anak-anak bermain sirkus.“Karena tidak akan selamanya berada di sini, harapan saya adalah bahwa dengan kehadiran orang Indonesia sebagai pengganti saya, anak-anak dapat lebih merasakan ketulusan yang diberikan dari darah yang sama, Indonesia,”ujarnya. Semoga saja impian kak Dan tidak hanya sebatas ‘teman tidur’, mengingat masih banyaknya warga Jakarta yang lebih mementingkan hedonisme semata.

Advertisements