Posts Tagged ‘ART’

Teks: Vera Waloeyo
Foto: Insan Obi dan Milan-Sladek-Festival.de

Wolfgang Amadeus Mozart mengekspresikan dirinya melalui dentingan nada dan William Shakespeare melalui rangkaian kata puitis. Namun Milan Sladek cukup berekspresi melalui gerak tubuhnya. Gerak tubuh dengan makna mendalam yang dituangkan dalam pencitraan kuat tak berkata. Kemampuan berbicara dalam ’kebisuan’ nya telah menyadarkan dunia seni bahwa mengungkapkan sesuatu memang tidak selamanya harus selalu menggunakan suara atau kata-kata.

Gutten tag, Ich heisse Vera. Es freut mich ihnen Herr Milan Sladek zu treffen.” Kalimat sederhana dalam bahasa Jerman itu mati-matian saya pelajari seharian penuh dengan pelafalan yang benar hanya untuk memberikan salam hangat pada Milan Sladek. Namun nyatanya kata-kata tersebut sama sekali tidak terucap saat bertemu dengannya. Bukan karena lupa atau terlalu takut salah dalam mengucapkannya, tapi karena ada sesuatu yang lebih menarik dan sulit dijelaskan tentang pria berusia 72 tahun ini. Sesuatu yang membuatnya mampu menjadi seorang Master of Pantomime. Maaf, saya pun nampaknya lebih senang bertemu dengannya dibandingkan jika harus bertemu Presiden Indonesia saat ini.

Ramah, hangat dan murah senyum. Tiga kata awal yang dapat AMICA rasakan saat pertama kali bertemu Milan Sladek. Sosoknya sangat sederhana dan kharismatik dengan smiling face yang dimilikinya. Sembari menyeduh secangkir teh, ia pun melirik ke majalah AMICA yang kami bawa sambil berkata ‘oh, das ist eine gute zeit schrift’ yang berarti ‘cover majalah yang bagus’. Meski merasa tersanjung, kami sebenarnya sedikit kesusahan dalam berkomunikasi dengannya, karena ia lebih senang menggunakan bahasa Jerman daripada bahasa Inggris. Beruntung, kami didampingi oleh Deny Tjakra Adisurja, translator yang mampu memaknai semua ucapan Milan Sladek dengan ekspresi yang sama persis dengan yang Milan ungkapkan.

Nama depan yang dimiliki pria sepuh ini sangat identik dengan Italia. Paradigma Anda pun tidak dapat di cap salah jika berpikir demikian, karena kota Milan memang berada di negara pizza tersebut. Namun ia bukanlah warga Milan. Ia bahkan sama sekali tidak memiliki darah Italia dari kedua orang tuanya. ”Milan adalah nama salah satu pendiri negara Slovakia dan orang tua saya sangat simpatik padanya. Saya bangga dilahirkan di Slovakia meskipun tumbuh di Jerman.”

Photo by Milan-Sladek-Festival.de

Salah satu pementasan Milan, DIE BEULE (1960, 1963)

Milan Sladek adalah seorang pantomimer dunia, pemimpin teater dan pembuat topeng serta pelukis. Ia telah membenamkan hidupnya pada dunia pantomim sejak setengah abad yang lalu. Untuk merayakan 50 tahun karirnya itu, ia akan membuka sebuah sekolah Pantomim di Jerman. Sebuah pencapaian yang sudah sangat lama ingin ia wujudkan. ”Apa yang kita lakukan sehari-hari sudah mewakili gerak pantomim. Selama masih memiliki tenaga dan usia, pantomim akan terus menjadi tapakan hidup saya. Selama sejarah manusia dapat terus bergulir, pantomim pun akan tetap menjadi bagian dari sejarah kehidupan saya. Pantomim adalah hidup saya,” ujar kakek yang memiliki dua cucu ini. Dalam kurun waktu tersebut, Milan pun terus mengembangkan gaya pantomim yang individual dan modern hingga sekarang. Meskipun terinspirasi dari Jean-Gaspard Deburau, seorang pemain pantomim abad ke-19, Milan tetap memiliki gaya tersendiri melalui kecintaanya mempelajari teater Kabuki dari Jepang.

BERTUTUR DALAM ’KEBISUAN’

Tanpa suara, tanpa kata dan tanpa dialog. Hanya gerak tubuh yang ekspresif dan interpretasi penonton terhadap gerakan di panggung. Modal itulah yang membuat Milan Sladek mendirikan kelompok pantomim pertamanya di Slovakia pada usia 21 tahun hingga akhirnya mendapat penghargaan dari Menteri Kebudayaan Prague pada tahun 1963 dan penghargaan utama festival teater Istanbul pada tahun 1967. Meski minim kata, baginya berpantomim adalah sebuah moment dimana ia dapat mengekspresikan segala sesuatu dengan leluasa. Jika musisi Jimi Hendrix mengatakan, ”music doesn’t lie”, Milan Sladek menjawab, ”Bahasa tubuh lah yang tak pernah berbohong. Gunakan bahasa tubuh Anda untuk berbicara, karena bahasa tubuh adalah bahasa yang paling jujur.” Secara tersirat, Milan yang diam-diam sangat menyukai bakso ini mengajarkan kita bahwa bahasa tubuh adalah sesuatu yang tidak dapat dimanipulasi, karena bersumber dari hati.

DER LUMPENHÄNDLER (1967, 1981)

Sebuah ungkapan cinta pada seseorang yang hanya diekspresikan melalui kata-kata belum tentu diucapkan dengan jujur. Namun, perasaan yang diungkapkan melalui gerak tubuh, akan menjadi sesuatu yang lebih membekas bagi orang lain. Untuk itu, Milan membiarkan semua orang memiliki pandangan, pemikiran, dan fantasi nya masing-masing tentang sebuah gerak yang ia lakonkan. ”Saya selalu percaya dengan kekuatan non-verbal yang mampu memperkuat pesan yang ingin disampaikan,” ujarnya sembari mengusap kepala. Milan memang sungguh jenaka dengan bahasa tubuhnya. Ekspresi-ekspresinya mengundang senyum, bahkan tawa. Sayang, kami tidak dapat langsung memahami ucapannya sebelum sang penerjemah mengartikannya untuk kami.

Entah hawa positif apa yang merasukinya, Milan merasa bahwa ia sama sekali tidak ingin melakukan apapun selain pantomim. Ia pun akhirnya membuka Theatre Kefka yang merupakan satu-satunya teater pantomim tetap Eropa Barat pada zaman itu. Milan pula yang menginisiatifkan Festival Pantomim Internasional pertama, ”Gaukler”. Sedikit menyombongkan diri, ia merasa bahwa keberhasilannya ini sangat mengesankan karena sejak tahun 1976, festival itu dapat dilaksanakan setiap tahun hingga 1987. ”Saya ingin mengapreasiasi diri saya sendiri, dan kesuksesan inilah yang menjadi tanda bahwa saya akan terus ‘terpenjara’ dalam kerangkeng pantomim.” Satu hal yang juga membuatnya terus berada dalam dunia ’kebisuan’ ini adalah bahwa ia mampu bertutur dengan cara menggambarkan setiap karakter secara sempurna meskipun tak sepatah katapun terucap dari mulutnya. Ia ingin mempersembahkan sebuah tontonan seni berkelas yang ‘memaksa’ Anda belajar memahami keheningan penuh makna. Makna yang mungkin akan berbeda jika Anda menyaksikan pertunjukan teater dengan aktor yang memainkan peran dengan kata-kata.

Teater dan pantomim adalah dua hal yang berbeda”, tandas sang maestro. Uniknya, hingga tulisan ini kami buat, Milan sama sekali belum pernah menyaksikan pertunjukan teater atau pun pantomim. Namun, ia merasa belum pernah mengalami kegagalan dalam menghayati peran yang ia lakonkan. Satu kesulitan yang ia rasakan adalah saat ia membuat sebuah pementasan pantomim di Jepang. Sebuah

adegan ‘memaksa’ Milan melakukan gerakan dimana satu pemain memukul pantat pemain lain. Baginya ini wajar saja. Akan tetapi, di Jepang adalah sesuatu yang sangat tidak sopan dan tidak boleh dilakukan. Dilema pun mulai merasukinya, karena adegan itulah yang merupakan kekuatan ceritanya. Dengan sangat berat hati, Milan tetap meloloskan gerakan tersebut, meski semua penonton pada saat itu tertawa menyaksikannya.

DON JUAN

Sembari menggerakkan tubuhnya di atas kursi rotan yang unik, Milan melakonkan beberapa bahasa gerak yang ia anggap sebagai lukisan dengan frame-frame menarik. Ia mengolah semua gerak yang ia ciptakan sendiri menjadi sebuah pementasan teater pantomim berjudul Don Juan yang dipentaskan di Jakarta beberapa waktu lalu. Berkat kepiawaiannya, ia mengadopsi Don Juan karya Christoph Willibald Ritter von Gluck yang biasanya dibawakan dalam bentuk tarian balet klasik. Tetap membisu, ia mampu menghidupkan karya tersebut melalui mimik muka, gerak tubuh dan isyarat. Bagi Milan Sladek, menyutradarai pementasan pantomim dengan pemain-pemain asal Indonesia adalah hal yang unik. Ia tertantang untuk membuat para pemain itu mengerti apa yang ia inginkan dengan segala keterbatasan bahasa. Di sisi lain, dengan ekspresi dalam diamnya yang luar biasa, para pemain tersebut mampu menginterpretasikan setiap gerak yang diinginkan Milan.

Perbincangan kami pun selesai dengan coretan penanya pada buku kami yang menggambarkan logo khas milik Milan Sladek. Sebuah tulip yang terhisap dari mulut tanpa kata. Sebelum mengantar kami pulang pun, ia meminta kami untuk memainkan gerak pantomim bersamanya. Di luar dugaan, sangat tidak mudah menirukan bahasa tubuhnya. Namun, Milan memang hebat. Kemampuan ‘berbicara’ dalam ‘kebisuan’ nya mampu diinterpretasikan dengan benar oleh semua orang. Atau mungkin karena kharismanya lah yang membuatnya hebat? Silakan maknai sendiri.

Advertisements