Ode Untuk Musik

Posted: August 26, 2010 in Uncategorized

Teks: Vera Waloeyo
Foto Dok. SIEM

Saat harmoni dan irama adalah kuas. Saat aksi panggung adalah cat warna. Dan ketika notasi adalah kanvas. Para musisi siap melukis dalam sebuah alunan musik yang indah.

“When words leave off, music begins.” -Heinrich Heine, jurnalis Jerman-

Music doesn’t lie. If there is something to be changed in this world, then it can only happen through music.” -Jimi Hendrix-


Noah &The Whale, Belle & Sebastian, David Bowie, Oasis, Marina and The Diamonds, Dizzee Rascal dan Coldplay. Anda pasti sudah mengenal mereka. Beberapa di antaranya memilih jalur
indie sebagai aktualisasi musikalitas. Beberapa lagi rela bersanding dengan label besar tanpa harus merasa kehilangan idealismenya. Namun bergabung bersama perusahaan rekaman besar terkadang mampu menguatkan idiom ‘komersialisme mengalahkan idealisme.’ Melambungnya nama yang berujung pada kemudahan finansial pun menjadi sebuah janji yang menggiurkan.

Musik memang seharusnya menjadi media yang ampuh dalam menyampaian pesan. Namun tidak semua konsep dapat berjalan seperti definisinya. Ketika merambah ranah bisnis, konsep musik sebagai media penyaluran kreativitas sudah benar-benar dimanfaatkan sebagai produk ‘jualan’ semata. Beruntung, pemerintah kota Solo sama sekali tidak terbuai dengan konsep tersebut. Kota yang sedang berkembang pesat di Jawa Tengah ini menjadi tuan rumah
Solo International Ethnic Music Festival (SIEM), menghadirkan musisi-musisi etnik Indonesia maupun internasional. Reog Kendang Tulungagung, Raffi and The Beat, Dewa Budjana, Keroncong Tenggara, Hamrin Samad, Krakatau dan Bandanaira, adalah beberapa musisi lokal yang tampil dengan mengusung semangat idealisme bermusik mereka.

Di tengah minimnya aspek apresiasi dan etika berkesenian, SIEM hadir untuk ketiga kalinya dengan tujuan lebih menggaungkan keindahan musik etnik. Tanggal 7-11 Juli 2010 menjadi saksi terselenggaranya SIEM di Stadion Sriwedari, Solo, Jawa Tengah. Ada yang berbeda dari pementasan kali ini. Dimulai pertama kali pada tahun 2007 di Benteng Vastenburg, berlanjut di kompleks Mangkunegaran pada 2008.

Upacara pembukaan dilakukan oleh Walikota Surakarta, Joko Widodo, dan dilanjutkan dengan pemukulan bedug. Kelompok Reog Kendang dari Tulungagung pun langsung membuka SIEM dengan nuansa etnik yang sangat kental. Mungkin karena mereka lebih memfokuskan diri pada irama kendang dan tiupan seruling, beberapa pelengkap lain seperti jaran kepang justru tidak tampak pada panggung. Raffi and The Beat juga menggebrak penonton dengan lagu Bengawan Solo yang diaransemen cerdas, sehingga menghasilkan sebuah genre cross over baru, etnik jazz. Tidak ada elegi patah hati. Atas nama musik, mereka memang sangat menghibur. “Kami senang menyanyikan lagu ini di kota kelahiran Maestro Keroncong Gesang Martohartono,” kata Rafi and The Beat.

Jika Inggris memiliki genre Baroque Pop dengan kombinasi psychedelic pop dan art rock, Indonesia pun pandai mengartikan musik etnik yang diolah dengan musik keroncong dan jazz sekalipun. Sayang, Rieka Roslan yang malam itu tampil bersama Sound of Flower City lebih menyajikan musik pure jazz, blues dan new age. Sentilan etniknya hanya terngiang di beberapa ritme saja.

Sekitar 6.500 penonton yang datang per harinya memang bisa dijadikan tolak ukur kesuksesan ajang ini. Akan tetapi tidak dengan pilihan venue-nya. Fakta bahwa Stadion Sriwedari sedikit kurang mewakili megahnya nama yang diusung acara ini, dan tidak adanya sajian visual dan lighting menarik maupun latar bangunan tua yang memukau, memang sedikit banyak, cukup berpengaruh. Jarak antara penonton dan musisi yang lumayan jauh juga sempat mengurangi ‘kehangatan’ suasana khas pertunjukan musik. Ditambah dengan pembagian tiga panggung yang sedikit membingungkan dan tertutup oleh pilar yang cukup besar. Namun Stadion Sriwedari tetap menjadi pilihan karena merupakan tempat bersejarah di Solo. Selain menjadi stadion olahraga yang pertama kali dibangun di Indonesia, tempat ini juga menjadi penyelenggaraan Pekan Olah Raga Nasional yang pertama.

Berlanjut di hari berikutnya, yang tampil terlihat lebih variatif dengan hadirnya musisi internasional. Sebut saja Orkestar Trio with Rama Thiruyanam dan Sonofa (Singapura), Albert Chimedza (Zimbabwe) dan Kamal Musallam (Dubai). “Benar-benar memberikan keragaman musik dunia yang cantik,” ujar Dwiki Dharmawan, kurator musik SIEM. Yang menjadi masalah adalah jika keragaman itu hanya dipandang sebagai tradisi, maka tak akan memberi kontribusi yang nyata dalam konteks perkembangan musik modem saat ini. Satu hal yang paling mengharukan dari SIEM adalah penampilan dari Pipa Woman asal Taiwan. Secara mengejutkan, ia membawakan lagu kebangsaan
Indonesia Raya. Ribuan penonton pun serentak berdiri dan menyanyikan lagu kebanggaan Indonesia tersebut, membuat keberagaman tadi sejenak terbalut homogenitas.

Advertisements

Teks: Vera Waloeyo
Fotografi oleh Adi Nugroho

Jika saya mengatakan bahwa kita dengan tiba-tiba saja berhadapan dengan seni lukis Indonesia, sebetulnya perkataan saya itu salah. Seni lukis itu belum ada. Dan untuk sementara waktu ia juga tidak akan ada.” -J.Hopman, 1947-

Kami tahu kemana seni lukis Indonesia akan kami bawa” -S. Sudjojono, 1948-
…………………………………………………………………………………………………………………………………………………

Dua kutipan di atas sudah lebih dari 50 tahun disuarakan. Hopman dan S. Sudjojono saling berbantah apakah seni rupa Indonesia itu ada. Lebih dari dua puluh tahun kemudian, Oesman Effendi mengulang Hopman dan kembali menyulut polemik yang sama. Penyangkalan disertai pembelaan terhadap eksistensi atau identitas seni rupa Indonesia sepertinya selalu muncul di setiap dekade dalam sejarah. Satu hal yang dapat terungkap dari polemik tersebut adalah bahwa identitas seni rupa kita ternyata memang masih bermasalah.

Hanya saja, hal itu masih bisa dipahami, karena pada masa tertentu para pelaku seni di tanah air bertekad menemukan ‘identitas yang benar’. Yang mereka inginkan adalah membangun ‘rumah’ agar bisa berpulang. Lalu mengapa timbul istilah
No Direction Home? Nama itu sekaligus menjadi tema sebuah pameran di Galeri Nasional yang dibuka oleh Soetikno Soedarjo pada akhir Juni. Malam itu, 19 seniman dua generasi yang berpartisipasi seakan serentak mengiyakan kurator Aminudin TH Siregar, “Pameran ini merayakan kegamangan bersama ketika arah ‘pulang’ justru semakin kabur dan hilang.” Di sisi lain, kata home menyimbolkan sejarah dalam seni rupa bahwa seniman memerlukan tempat untuk pulang. Begitulah pameran ini tercipta.

Beberapa karya mendiang seniman senior seperti S.Sudjojono, Trisno Sumardjo, Oesman Effendi, Basuki Resobowo, dan Sanento Yuliman dihadirkan untuk mengapresiasi mereka. Generasi seniman terkini juga turut memberikan warna baru dalam mengartikan makna seni rupa yang masih gamang. Sebut saja Abdi Setiawan, Agung Kurniawan, Agus Suwage, Arahmaiani, Astari, Arahmaiani, F.X. Harsono, Gusmen Heriadi, Hafiz, Heri Dono, Isa Perkasa, Pramuhendra, Krisna Murti, Mella Jaarsma, Nindityo A.P, Srihadi Soedarsono, Sunaryo, Tisna Sanjaya, Ugo Untoro, dan Yani Mariani Sastranegara.

P
ameran ini sebenarnya sudah cukup lama dirancang oleh Edwin’s Gallery. Sekitar satu tahun. Prosesnya pun ternyata telah berkembang dari hanya sekadar pameran dengan karya kekinian seni rupa menjadi sebuah arah yang lebih historikal.,” jelas Edwin Rahardjo. Lepas dari ada tidaknya arah untuk kembali ke ‘rumah’, pameran ini memang terasa mengusung permasalahan seni rupa Indonesia.

Teks: Vera Waloeyo
Foto: dok. pribadi

Cita-citanya mulia. Mempersiapkan peneliti Indonesia meraih Nobel tahun 2020.

“In physics, you don’t have to go around making trouble for yourself. Nature does it for you.” -Frank Wilczek, Fisikawan-

Jika harus dirangkum dalam satu kalimat, dunia Prof. Yohanes Surya, PhD sesungguhnya ada di balik angka-angka rumit berumus itu. Baginya, angka-angka itu adalah teman yang membuatnya mampu menjadi Fisikawan hebat. Fisikawan yang kini bercita-cita mempersiapkan peneliti Indonesia meraih Nobel tahun 2020.  “Saya adalah mediator. Saya merasa bahwa saya adalah manusia pilihan yang diciptakan untuk mereka. Ini adalah panggilan pribadi dari Tuhan,” tandasnya.

Pada akhirnya, jawaban itulah yang menjadi cerita awal segala kesuksesan serta dedikasinya pada dunia Fisika. Mengenalnya seolah mengenangkan kembali opini klise yang pernah dicetuskan oleh Albert Einstein: “Love is a better teacher than duty.” Ilmuwan tersebut berbicara tentang cinta. Dan karena cinta pula, Yohanes memilih dunia Fisika. Ada sebuah pesan yang mencakup kepandaian dan keinginan yang tanpa disadari dapat mengungkapkan ekspresinya. Ekspresi yang tertuang dalam deretan angka-angka.

Putra ketujuh dari sembilan bersaudara ini mulai menekuni Fisika MIPA di Universitas Indonesia hingga memperoleh gelar doktor di College of William and Mary, Virginia, Amerika Serikat dengan predikat cum laude. Ia lantas menjadi Consultant of Theorical Physics di Continous Electron Beam Accelerator Facility, Amerika Serikat. Banyak orang menganggapnya sangat beruntung bisa menepa hidup dan sukses di negeri liberty itu. Tapi tidak dengannya. Ia merasa ada sesuatu yang membisikkan telinganya untuk kembali ke Indonesia, mengharumkan tanah air melalui olimpiade fisika. Memang tak bisa dipungkiri, kehidupan Yohanes begitu menyatu dengan pola pikir dan kreativitasnya dalam mengolah angka. Ia ingin mengembangkan fisika di Indonesia. Satu harapan mulia yang hingga kini tetap terpatri dalam benaknya.

Semenjak tahun 1993 hingga 2007, ia telah mengantarkan anak-anak didiknya meraih 54 medali emas, 33 perak dan 42 perunggu dalam berbagai kompetisi fisika tingkat internasional. Semua ia mulai dengan kerja keras. Bapak tiga anak ini menulis, membuat video untuk memudahkan pengajaran fisika, mempersiapkan kuliah, dan merancang soal untuk pelatihan. Tidur pukul 1 pagi dan bangun pukul 4 pun sudah tidak terasa berat baginya. Satu hal yang selalu ia katakan pada anak didiknya adalah bahwa untuk menjadi sukses, tidak mutlak diperlukan bakat yang besar. “Bakat saja tidak cukup. Harus ada kerja keras. Tak perlu skeptis dalam memandang hidup. Fisikawan seperti Schwinger, Feynman atau Gell-Man memang jenius. Tapi Masatoshi Koshiba? Nilai-nilai mata pelajarannya jelek.
Toh ia membuktikan diri bahwa kerja keras mampu membuatnya meraih nobel tahun 2002,” kata Yohanes.

Nobel. Memang itulah tujuan akhir Vice President dariThe First step to Nobel Prize ini. Sangat ambisius. “Saya memang ambisius. Dengan Nobel, Indonesia bisa lebih maju. Coba saja lihat Pakistan. Negaranya miskin. Namun dunia mengatakan bahwa science mereka bagus karena Abdus salam pernah mendapatkan nobel. Cukup terwakili kan?” jawabnya.

Dari apa yang sudah ia lakukan untuk dunia fisika di Indonesia, jelas terasa bahwa kepuasan pribadinya adalah kesuksesan anak didiknya. Namun pemerintah terlalu lalai untuk memberikan ‘perhatian’ lebih kepada mereka sehingga anak-anak pandai ini justru gemilang di negeri orang. Sebut saja Evelyn, anak didik Yohanes angkatan 2002. Ia kini dibimbing oleh Douglas Osheroff, penerima nobel 1996. Meskipun bangga, ia tetap berharap mereka mampu kembali ke asal di mana mereka memulai kesuksesan, Indonesia. 

Sebuah ruangan di penjara disulap menjadi tempat pembuatan sabun dan dinamakan Madame Lee. Itulah tanda kecintaan para narapidana Indramayu terhadap wanita asal Korea ini.

Berdasarkan pengamatan saya, orang Indonesia memiliki tingkat kreativitas yang tinggi. Sayangnya, mereka kurang berfikir logis dan hanya mengandalkan emosi.” –Hee Sook Lee-Niinioja-

Kecintaan
Dr. Hee Sook Lee-Niinioja terhadap bangsa Indonesia muncul sejak ia pertama kali menginjakkan kaki di negeri ini. Ia adalah seorang seniman, desainer, jurnalis sekaligus cendekiawan yang juga merupakan istri dari Duta Besar Finlandia bagi Indonesia pada saat itu, H.E. Mr. Markku Niinioja. Melalui berbagai hal yang dilakukannya, ia telah membuktikan bahwa ketulusan adalah prinsip hidup yang terpenting. Hal tersebutlah yang ia terapkan saat mengunjungi Indramayu dan mengajari para narapidana berkreativitas membuat sabun.

Bersama para relawan dan Dr. Erliza dari Institut Pertanian Bogor, peraih gelar PhD jurusan arsitektur dari Universitas Oxford Brookes Inggris ini, memilih untuk mengajar cara membuat sabun dengan harapan para narapidana dapat menghasilkan uang sendiri setelah meninggalkan jeruji besi.

”Saya berharap bahwa sabun yang mereka buat dapat membersihkan tidak hanya raga tetapi juga jiwa, sehingga mereka dapat semakin mendekatkan diri pada Tuhan dan tidak mengulangi kejahatan yang pernah mereka lakukan,” ujar wanita kelahiran Busan, Korea Selatan, 60 tahun silam ini.
Sabun yang dibuat Dr. Lee memiliki pola yang menyiratkan makna perdamaian, terdapat simbol
Cosmos (Hindu-Buddha), Cross (Kristen), Oneness (Muslim), dan elemen hidup (udara, api, bumi dan air).

Kepeduliannya terhadap bangsa Indonesia terus ditunjukkan dengan cara mengusulkan workshop pembuatan sabun dan membatik pada Aceh Design Council bagi para korban tsunami di Aceh beberapa tahun lalu. Sejak saat itu, salah satu hotel di Aceh menggunakan sabun yang dibuatnya.

Dr. Lee yang saat ini masih menetap di Finlandia juga menaruh kekaguman pada batik. ”Sayangnya, batik masih dianggap milik sebagian tradisi masyarakat tertentu saja. Padahal dunia luar menganggap Indonesia sebagai satu kesatuan,” ujar wanita Asia pertama yang mempelajari seni dan desain di Norwegia ini. Dalam waktu dekat, ia akan mengunjungi Indonesia untuk mengikuti workshop membatik yang diselenggarakan Institut Teknologi Bandung. ”Saya memiliki ketertarikan pada batik dan berniat membuat mantel mandi dengan rancangan batik yang unik dan indah.”

Sebagai wanita, Hee Sook Lee percaya bahwa kesuksesan dapat diraih dengan pendidikan yang berkualitas, kemampuan dan keimanan pada Tuhan. ”We exist in this world to use our talents,” paling tidak itulah yang sering ia suarakan untuk memotivasi semua orang.

Teks: Vera Waloeyo
Foto: Gayatri Suroyo
Ada kalanya senyuman dan ucapan tidak mampu menyampaikan pesan yang tersembunyi. Maka melalui sebuah cerita film yang unik, Jane Lawalata berhasil menyentak dunia perfilman Indonesia atas karya besarnya yang menembus Hollywood.

Film dapat dianalogikan sebagai sebuah gambaran yang menampilkan jejak-jejak masa lampau, masa kini, atau bahkan ramalan mengenai masa depan. Film pun mulai menjadi sarana yang tidak lagi hanya digunakan untuk menampilkan citra bergerak saja, tapi juga untuk ‘mengorasikan’ kepentingan tertentu seperti politik, hak asasi manusia, gaya hidup bahkan kepentingan keluarga. Dari pentingnya arti sebuah keluarga lah perempuan kelahiran Ujung Pandang ini memulai loncatan besar dalam karirnya. Jane Lawalata, sutradara wanita Indonesia pertama yang mampu menembus kiblat perfilman dunia, Hollywood.

Lembaran kesuksesan Jane Lawalata dibuka oleh sebuah tugas kuliahnya di New York Film Academy Los Angeles.“Chelsea, gadis 13 tahun ingin sekali mengikuti kompetisi bernama Chatterbox. Sebuah lomba kecerdasan yang terbuka bagi seluruh SMU di Amerika Serikat”, ujar Jane tentang inti cerita tugas filmnya kala itu. Sinema berjudul Chatterbox tersebut dibuat tanpa lepas dari sebuah makna akan pentingnya keluarga, persahabatan, dan toleransi terhadap diri sendiri maupun orang lain.

Berbincang dengannya pun seolah membuat kami merasa sebagai aktris yang hendak memerankan sebuah karakter dalam filmnya. ”Saat memainkan sebuah peran, semua pemain harus benar-benar keluar dari karakter aslinya”, tandas wanita lulusan jurusan sinema Institut Kesenian Jakarta [IKJ] ini. Film tersebut pun berhasil memikat Chomer Family Films, sebuah rumah produksi di Amerika. Chatterbox diangkat ke layar lebar dan mendapat sambutan yang megah pada premier dunianya,10 Oktober 2009 di University of the District of Columbia, Washington DC. Semua kru dan pemain berasal dari Amerika. Namun nahkoda dari keberhasilan film ini berada di bahwa kendali sang sutradara dan penulis naskah Jane Lawalata.

Naskah yang dipaparkan dalam sebuah film mungkin saja dianggap dapat menunjukkan kemampuan berpikir penulis dan sutradaranya tentang berbagai hal seperti kehidupan, realitas bahkan masalah personal. Agaknya hal tersebut pun berlaku bagi sutradara yang mahir bermain gitar, keyboard dan perkusi ini. “Chatterbox adalah hasil pemikiran saya mengenai kehidupan nyata bahwa keluarga memang memegang peranan yang paling penting dalam hidup,” ujarnya. Satu hal yang akan membuat semua orang langsung mengenali bahwa film yang mereka saksikan merupakan karya seorang Jane Lawalata adalah visualnya yang sangat colourful. “Semua warna yang ada dalam film merupakan cerminan hati saya yang ingin selalu membuat semua penonton gembira.” Namun kegembiraan penonton saat menyaksikan hasil karyanya bukanlah ukuran kesuksesan bagi Jane. Baginya, di saat ia mampu mempertahankan idealisme nya lah, ia dapat menyebut hal tersebut sebagai sebuah kesuksesan besar.

Di satu sisi, Jane juga menyadari bahwa terkadang idealisme mampu mengalahkan komersialisme. Maka dari itu, tanpa harus bersikap munafik, Jane pun tidak ingin membuat dirinya terisolasi dari kiblat dunia film Hollywood yang selama ini menjadi acuannya. Ia juga akan tetap bertumpu pada kekuatan alur, tema dan solusi dari konflik yang disajikan dalam rangkaian cerita filmnya.

”Jika seseorang dapat mencapai semua yang mereka inginkan, lalu apa lagi yang akan mereka lakukan dalam hidup?” Kalimat tersebut sempat terbesit pada dirinya, sebelum akhirnya ia merasa bahwa apa yang sekarang ia lakukan justru barulah awal dari kesuksesan lain yang mungkin sedang menanti“Satu hal yang selalu membuat saya ingin terus berada dalam dunia film adalah bahwa sebenarnya saya tidak tahu apa-apa tentang film. Saya hanya tahu kalau saya suka menonton film dan harus membuat film yang bagus,” tandasnya dengan nada sedikit bercanda.

Film Indonesia yang kini banyak dihiasi dengan beberapa cerita-cerita misteri yang standar membuat Jane semakin yakin bahwa jika ada seseorang yang mampu mengubah semua itu dengan membuat film berkualitas dan mampu dihargai di Amerika, maka dunia perfilman Indonesia akan membaik. “Tujuan saya adalah Hollywood. Saya akan terus membuat film-film berkualitas untuk memperoleh piala OSCAR. Itu target saya,” sahut wanita kelahiran 7 Juni 1973 ini. Jane juga mengaku bahwa rasanya wajar jika ia menginginkan regenerasi yang mampu meraih kesuksesan sepertinya. ”Saya percaya perfilman Indonesia akan mampu menorehkan prestasi yang lebih dari apa yang saya dapatkan”, tandasnya optimis. Optimismenya pula yang telah membangkitkan dirinya sendiri dimana sebagai seorang wanita Indonesia, ia mampu ’menampar’ dunia bahwa Merah Putih memiliki bibit yang berkualitas dalam dunia film.

Seolah bernostalgia ke masa lampau, Jane sempat mengungkapkan bahwa ia tidak pernah terpikir menjadi seperti apa yang ia lakukan sekarang, karena cita-cita awalnya adalah menjadi seorang arsitek. Namun karena depresi lantaran tidak berhasil lulus ujian UMPTN, ia mencari jurusan yang tidak memiliki pelajaran matematika, yaitu Cinematography yang akhirnya ia pelajari di Institut Kesenian Jakarta dan AS. Cerita kesuksesan pun bergulir seiring perjuangannya meningkatkan karier dan demi membuktikan kata-katanya sendiri, “Saya akan menyelesaikan apa yang telah saya mulai”.

Teks: Vera Waloeyo
At the end of the day,
hanya peran kita sebagai ibu dan istri yang baik yang nantinya akan menjadi tabungan dan investasi paling besar di masa depan kita. -Isma Kania Dewi-

Wanita itu duduk termangu sambil menunggu kedatangan ibunya di sebuah bandara. Hampir setiap bulan ia melakukan hal itu lantaran harus menjemput sang bunda yang mengenyam pendidikan di luar negeri. Ia sering sekali melihat pesawat take off dan landing. Ia juga memandang betapa gagahnya pilot-pilot lalu lalang di bandara. “Wuaaaaah I thought it was beautiful,” katanya. Wanita itu lantas berpikir untuk menjadi seorang pilot. Tidak peduli betapa keluarganya sama sekali tidak memiliki latar belakang di dunia penerbangan, ia tetap teguh ingin menjadi pilot.

Ternyata wanita itu tidak sekadar berani bermimpi. Siapa bilang hidup adalah mimpi? Hidup adalah bagaimana menjalani mimpi tersebut. Mungkin afirmasi itulah yang terpatri dalam otaknya. Selepas lulus SMA Regina Pacis, Bogor, ia mendapatkan beasiswa untuk menuntut ilmu menjadi pilot di Pusat Latihan Penerbangan Curug di Tangerang hingga memperoleh Commercial Pilot License Multi Engine Instructor Rating. Ia lantas bergabung bersama Garuda pada tahun 1998 dan berhasil menerbangkan Boeing 737 300-400-500 series, pesawat komersil pertamanya.

Siklus hidup wanita ini ternyata sungguh mujur. Ia kini adalah pilot Qatar Airways. Ia telah menerbangkan pesawat hingga ke Austria, Rusia dan Abu Dhabi. “Saya termasuk beruntung mendapat dukungan hebat dari keluarga hingga akhirnya bisa menyaksikan luasnya dunia dan indahnya langit di angkasa,” bisiknya. Meski harus berpindah-pindah ke berbagai negara, ia sama sekali tidak pernah merasa berat atau lelah. Usut punya usut, ternyata rahasia yang utama adalah kesetiaan suaminya yang juga seorang pilot. “Selama terbangnya bersama suami dan anak-anak, saya sih enjoy saja,” jawabnya dengan tawa lepas.

Tidak bermaksud menggampangkan hidupnya, tapi wanita ini sungguh terlihat sangat santai dan menikmati hidup tanpa beban yang harus dibesar-besarkan. Hal ini terlihat dari kesetiaannya untuk tetap berada dalam ruang kokpit saat hari raya tiba. “Kalau tidak dapat cuti dan harus terbang, diniatkan saja dalam hati untuk menolong orang lain yang juga mungkin sedang menempuh perjalanan untuk bisa berlebaran bersama sanak keluarga,” jawab wanita ini tegas.

Lepas dari kodratnya sebagai seorang wanita, siapapun yang telah berhasil menerbangkan pesawat dengan ratusan penumpang di dalamnya, tidak dapat dianggap remeh. Wanita ini dengan segenap jiwa menumbuhkan rasa tanggung jawab yang tinggi untuk membawa semua penumpang dengan selamat.

Nampaknya ia memilih RA. Kartini sebagai panutannya. Ketika mengejar haknya sebagai wanita, Ibu Kartini tidak melupakan kewajibannya sebagai wanita. “Saya juga ingin sekali jadi wanita yang seimbang dalam menuntut hak dan menjalankan kewajiban. Perempuan Indonesia bisa jadi apa saja yang dia mau, but at the end of the day, hanya peran kita sebagai ibu dan istri yang baik yang nantinya akan menjadi tabungan dan investasi paling besar di masa depan kita,” kata wanita yang sempat terinspirasi oleh film Top Gun ini untuk menjadi pilot.

Motto hidupnya adalah Safety first. Sangat ringkas dengan makna yang selalu membuat orang tenang. Kini, apa lagi yang ingin dicapai wanita ini? “Saya ingin menunaikan ibadah haji,” tandasnya sambil mengamini doanya sendiri.

Kisah ini mungkin memang terlalu singkat untuk memaknai perjuangan seorang wanita dengan keinginan menggebu untuk menjadi pilot dunia. Ia adalah permata bagi keluarganya. Ia adalah pengendali pesawat dengan ratusan penumpang yang menggantungkan nyawa kepadanya. Ia adalah wanita dengan senyum yang tak henti merekah. Ia adalah Isma Kania Dewi. Seorang wanita dengan keteguhan yang abadi untuk mengabdikan hidupnya dalam dunia penerbangan. Dunia yang telah membuka sekaligus menutup sepenggal kisah ini.