Eksistensi Pergerakan Lokal

Posted: September 27, 2010 in Uncategorized

Teks: vera Waloeyo
Foto: Shakti Siddarta, Dok. Sixteendscale

Mereka menciptakan sebuah pasar yang terbentuk karena sebuah produk yang dilahirkan dari idealisme yang tinggi. Sayangnya, kualitas dan manufacturing mereka masih kurang bagus. Namun, jika tidak ditantang, mereka tak akan pernah maju.” -Leonard Theosabrata, Co-founder Brightspot Market-

“Idealism is fine, but as it approaches reality, the costs become prohibitive.” -William F. Buckley-

………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

Tahun 2010 telah menjadi gerbang Asean-China Free Trade Area (ACFTA). Masuknya barang-barang impor dengan harga relatif murah yang didominasi China, sempat dikhawatirkan menggangu roda usaha dalam negeri. Namun, hal ini juga menjadi momentum untuk meningkatkan daya saing pelaku industri lokal. Pengembangan kreativitas yang dibarengi dengan peningkatan kualitas tentu akan menjadi jawaban saat pasar dalam negeri dihadapkan pada serbuan produk impor berharga murah.

Tantangan inilah yang sedang dibuktikan oleh generasi muda kita. Bahwa mereka diibaratkan sebagai pendobrak, memang ada benarnya. Fenomena munculnya desainer muda melalui lini fashion Sixteendscale, G.H.O.S.T, Harrington Home, House Of Jealouxy, Hunting Fields, Magic Happens, Monday To Sunday, Soe.Hoe, Nikicio, Satcas&Sash, Saint And Sinner, Tick Tock, dan Tosavica, membuktikan bangkitnya bisnis kaum muda yang dilandasi oleh idealisme dan semangat youth culture.


Data resmi Badan Pusat Statistik No. 29/05/Th. XIII menyebutkan bahwa pada tahun 2010, industri tekstil pada triwulan pertama mengalami penurunan sebesar 4,35 persen. Akan tetapi data ini seakan berbanding terbalik seiring dengan bermunculannya desainer-desainer muda yang terus unjuk diri berkarya. Angka penjualan yang berhasil diraih lini fashion independen, menurut Agra Satria, Desainer Grafis sekaligus pemilik merek G.H.O.S.T., melesat cukup drastis. Untuk tahun ini, omset produk-produknya bisa meningkat sebanyak 150 persen. Diakuinya, ini adalah efek dari peningkatan apresiasi masyarakat terhadap para desainer muda yang kreatif. Hal yang sama dialami Nina Karina, Creative Director label Nikicio. Pada kuartal 2009 menuju 2010, kenaikan omset yang dicapai sekitar 40 persen. Wendi Suherman (Awey), Founder dan Managing Director dari Sixteendscale juga sumringah menanggapi kenaikan statistik penjualannya sebesar 50 persen.

Fenomena ini mungkin belum saatnya dibilang sebagai terciptanya kultur baru. Namun keadaan ini telah memicu dibuatnya produk berdesain kreatif yang berharga terjangkau secara terbatas. Umumnya sasarannya adalah kelompok atau komunitas anak-anak muda. Uniknya, pasar produk desainer muda ini begitu cepat menyebar. Sandy S. Gunawan, pemilik Tosavica mengatakan, “Produk saya tersebar di butik Magic Happens Bali, Nanonine House Jakarta dan di Level One Grand Indonesia.” Nina Karina mengimbuhi, ia tidak memiliki butik tetap untuk mempromosikan koleksinya. Namun hasil kreativitasnya menyebar di Tribute Jakarta, Komodo Bali, Blackmarket Singapura dan Happy Go Lucky Bandung, dengan sistem konsinyasi. Annisa Hudaya selaku pemilik butik Happy Go Lucky menyambut baik fenomena ini. “Kami bisa dibilang semacam wadah yang menampung produk-produk para desainer muda yang belum memiliki butik tetap,” katanya.

Mengenai produksi terbatas yang merupakan salah satu keunggulan sederet merek tadi, sangat dijaga oleh merek G.H.O.S.T, yang hanya merancang 10 desain aksesori untuk setiap musim. “Setiap desain juga hanya diproduksi sebanyak 5 buah saja. Kami menjaga filosofi brand dan idealisme,” terang Agra. Berbeda dengan G.H.O.S.T yang murni melahirkan idealisme berkarya mereka, Nina bisa dibilang hadir dengan sikap yang sedikit lebih lunak. Pihaknya tidak pernah membatasi jumlah produksi selama market dan demand nya ada. “We are very open minded for wholesale and consignment buyers, “jelasnya. Namun, untuk menjaga eksklusivitas, Nina juga tetap meyakinkan pasar bahwa label nya tidak pernah mengikuti tren. “Moto dari Nikicio adalah we challenge fashion, trends, and gender, mo matter what season or trend that currently occur.”

Atas nama idealisme, mereka memang menebarkan semangat berkarya. Hanya saja, selain ada yang benar-benar berideologi indie, ada pula yang hanya berorientasi bisnis. Hal tersebut dianggap santai saja oleh Sixteendscale. Label tersebut justru mendesain pakaian ready to wear yang sesuai dengan tren pasar. Hal ini diakui Iwey, bahwa label nya memang mengikutigelombang tren. Guna menetralkan hal ini, dibentuklah Kreatif Independen Clohting Komuniti (KICK) yang dikepalai oleh Tubagus Fiki Chikara Satari.

Sebenarnya apa yang dicari oleh para desainer label indie ini? Akankah mereka berideologi kuat dengan segala terobosan, atau hanya berorientasi pada bisnis yang mengikuti selera pasar? Menanggapi tanda tanya tersebut, desainer fashion senior Irsan beropini, bahwa desainer muda sekarang hanya mengejar fame, front row, dan kilau dunia fashion. “Yang saya sayangkan adalah mereka kurang reseach. Karya-karyanya pun menjaditidak timeless. They become very instant, but I respect the human being.” Kartika Sahya Trianindya, Managing Director dari Naima, sebuah lini fashion yang dikhususkan untuk produksi sepatu mengatakan, “Kami mencoba untuk tidak timeless dengan cara mencari inspirasi dari desain Eropa. Hanya saja, perlu digarisbawahi bahwa referensi itu tidak lantas disimpulkan sebagai cara untuk mencontek,” tegasnya. Namun, ia juga mengaku bahwa saat ini kreasinya masih memiliki keterbatasan, terutama dari segi produksi.


Gaung Level One di Grand Indonesia Shopping Centre memang baru beberapa bulan dirasakan. Namun konsep yang diusung cukup mewakili wacana munculnya desainer lokal baru yang berkualitas. Di atas lahan seluas 2.700 meter persegi, Level One terkonsep sebagai wadah kreativitas inovasi kaum muda. Teges Prita Soraya, Senior Marketing Communication Manager Grand Indonesia Shopping Town menyatakan, “Untuk bergabung dengan Level One, kami melakukan seleksi hasil rancangan, konsep, konsistensi desain dan filosofi brand. Mereka adalah up raising local designer. Karenanya, kami memberikan tempat khusus untuk mereka.” Saking optimisnya, ia bahkan berencana membawa mereka mengikuti Trade Show untuk koleksi spring/ summer 2010/ 2011 di Berlin.

Lain halnya dengan Brightspot Market, sebuah medium untuk memfasilitasi karya desainer lokal. Ajang ini biasanya digelar selama 4 hari dalam tiga sampai empat bulan sekali dengan statistik data pengunjung rata-rata mencapai 41.000 per hari. Secara kolektif, angka penjualan brand juga meningkat sebanyak 30 persen. Co-founder Brightspot, Leonard Theosabrata mampu melihat fenomena berkembangnya kreativitas desainer muda tersebut dari dua paradigma yang berbeda. “Saya percaya pada local design. Kemampuan local designer tidak main-main. Mereka menciptakan sebuah pasar yang terbentuk karena sebuah produk yang dilahirkan dari idealisme yang tinggi. Sayangnya, kualitas dan manufacturing mereka masih kurang bagus. kurang rapi. Namun, jika tidak ditantang, mereka tak akan pernah maju.”

Lepas dari jungkir balik dan kritikan yang mungkin terjadi di dalamnya, desainer muda dipastikan akan terus muncul selama industri fashion terus berkembang. Departemen Pendidikan Nasional bahkan telah menyebutkan industri fashion sebagai salah satu dari 14 sektor industri kreatif di Indonesia. Para desainer muda ini berusaha membangkitkan kreativitas dengan sentuhan bisnis dan idealisme yang tinggi. Anda mungkin sepaham, bahwa tanpa idealisme, suatu produk hanya akan terlihat sebagai suatu produk. Pertanyaannya, mampukah mereka mempertahankan sisi idealisme itu di tengah bergejolaknya dunia bisnis yang sangat menggiurkan?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s