Saat Makna Seni rupa Masih Dipertanyakan

Posted: August 26, 2010 in Uncategorized

Teks: Vera Waloeyo
Fotografi oleh Adi Nugroho

Jika saya mengatakan bahwa kita dengan tiba-tiba saja berhadapan dengan seni lukis Indonesia, sebetulnya perkataan saya itu salah. Seni lukis itu belum ada. Dan untuk sementara waktu ia juga tidak akan ada.” -J.Hopman, 1947-

Kami tahu kemana seni lukis Indonesia akan kami bawa” -S. Sudjojono, 1948-
…………………………………………………………………………………………………………………………………………………

Dua kutipan di atas sudah lebih dari 50 tahun disuarakan. Hopman dan S. Sudjojono saling berbantah apakah seni rupa Indonesia itu ada. Lebih dari dua puluh tahun kemudian, Oesman Effendi mengulang Hopman dan kembali menyulut polemik yang sama. Penyangkalan disertai pembelaan terhadap eksistensi atau identitas seni rupa Indonesia sepertinya selalu muncul di setiap dekade dalam sejarah. Satu hal yang dapat terungkap dari polemik tersebut adalah bahwa identitas seni rupa kita ternyata memang masih bermasalah.

Hanya saja, hal itu masih bisa dipahami, karena pada masa tertentu para pelaku seni di tanah air bertekad menemukan ‘identitas yang benar’. Yang mereka inginkan adalah membangun ‘rumah’ agar bisa berpulang. Lalu mengapa timbul istilah
No Direction Home? Nama itu sekaligus menjadi tema sebuah pameran di Galeri Nasional yang dibuka oleh Soetikno Soedarjo pada akhir Juni. Malam itu, 19 seniman dua generasi yang berpartisipasi seakan serentak mengiyakan kurator Aminudin TH Siregar, “Pameran ini merayakan kegamangan bersama ketika arah ‘pulang’ justru semakin kabur dan hilang.” Di sisi lain, kata home menyimbolkan sejarah dalam seni rupa bahwa seniman memerlukan tempat untuk pulang. Begitulah pameran ini tercipta.

Beberapa karya mendiang seniman senior seperti S.Sudjojono, Trisno Sumardjo, Oesman Effendi, Basuki Resobowo, dan Sanento Yuliman dihadirkan untuk mengapresiasi mereka. Generasi seniman terkini juga turut memberikan warna baru dalam mengartikan makna seni rupa yang masih gamang. Sebut saja Abdi Setiawan, Agung Kurniawan, Agus Suwage, Arahmaiani, Astari, Arahmaiani, F.X. Harsono, Gusmen Heriadi, Hafiz, Heri Dono, Isa Perkasa, Pramuhendra, Krisna Murti, Mella Jaarsma, Nindityo A.P, Srihadi Soedarsono, Sunaryo, Tisna Sanjaya, Ugo Untoro, dan Yani Mariani Sastranegara.

P
ameran ini sebenarnya sudah cukup lama dirancang oleh Edwin’s Gallery. Sekitar satu tahun. Prosesnya pun ternyata telah berkembang dari hanya sekadar pameran dengan karya kekinian seni rupa menjadi sebuah arah yang lebih historikal.,” jelas Edwin Rahardjo. Lepas dari ada tidaknya arah untuk kembali ke ‘rumah’, pameran ini memang terasa mengusung permasalahan seni rupa Indonesia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s