Ode Untuk Musik

Posted: August 26, 2010 in Uncategorized

Teks: Vera Waloeyo
Foto Dok. SIEM

Saat harmoni dan irama adalah kuas. Saat aksi panggung adalah cat warna. Dan ketika notasi adalah kanvas. Para musisi siap melukis dalam sebuah alunan musik yang indah.

“When words leave off, music begins.” -Heinrich Heine, jurnalis Jerman-

Music doesn’t lie. If there is something to be changed in this world, then it can only happen through music.” -Jimi Hendrix-


Noah &The Whale, Belle & Sebastian, David Bowie, Oasis, Marina and The Diamonds, Dizzee Rascal dan Coldplay. Anda pasti sudah mengenal mereka. Beberapa di antaranya memilih jalur
indie sebagai aktualisasi musikalitas. Beberapa lagi rela bersanding dengan label besar tanpa harus merasa kehilangan idealismenya. Namun bergabung bersama perusahaan rekaman besar terkadang mampu menguatkan idiom ‘komersialisme mengalahkan idealisme.’ Melambungnya nama yang berujung pada kemudahan finansial pun menjadi sebuah janji yang menggiurkan.

Musik memang seharusnya menjadi media yang ampuh dalam menyampaian pesan. Namun tidak semua konsep dapat berjalan seperti definisinya. Ketika merambah ranah bisnis, konsep musik sebagai media penyaluran kreativitas sudah benar-benar dimanfaatkan sebagai produk ‘jualan’ semata. Beruntung, pemerintah kota Solo sama sekali tidak terbuai dengan konsep tersebut. Kota yang sedang berkembang pesat di Jawa Tengah ini menjadi tuan rumah
Solo International Ethnic Music Festival (SIEM), menghadirkan musisi-musisi etnik Indonesia maupun internasional. Reog Kendang Tulungagung, Raffi and The Beat, Dewa Budjana, Keroncong Tenggara, Hamrin Samad, Krakatau dan Bandanaira, adalah beberapa musisi lokal yang tampil dengan mengusung semangat idealisme bermusik mereka.

Di tengah minimnya aspek apresiasi dan etika berkesenian, SIEM hadir untuk ketiga kalinya dengan tujuan lebih menggaungkan keindahan musik etnik. Tanggal 7-11 Juli 2010 menjadi saksi terselenggaranya SIEM di Stadion Sriwedari, Solo, Jawa Tengah. Ada yang berbeda dari pementasan kali ini. Dimulai pertama kali pada tahun 2007 di Benteng Vastenburg, berlanjut di kompleks Mangkunegaran pada 2008.

Upacara pembukaan dilakukan oleh Walikota Surakarta, Joko Widodo, dan dilanjutkan dengan pemukulan bedug. Kelompok Reog Kendang dari Tulungagung pun langsung membuka SIEM dengan nuansa etnik yang sangat kental. Mungkin karena mereka lebih memfokuskan diri pada irama kendang dan tiupan seruling, beberapa pelengkap lain seperti jaran kepang justru tidak tampak pada panggung. Raffi and The Beat juga menggebrak penonton dengan lagu Bengawan Solo yang diaransemen cerdas, sehingga menghasilkan sebuah genre cross over baru, etnik jazz. Tidak ada elegi patah hati. Atas nama musik, mereka memang sangat menghibur. “Kami senang menyanyikan lagu ini di kota kelahiran Maestro Keroncong Gesang Martohartono,” kata Rafi and The Beat.

Jika Inggris memiliki genre Baroque Pop dengan kombinasi psychedelic pop dan art rock, Indonesia pun pandai mengartikan musik etnik yang diolah dengan musik keroncong dan jazz sekalipun. Sayang, Rieka Roslan yang malam itu tampil bersama Sound of Flower City lebih menyajikan musik pure jazz, blues dan new age. Sentilan etniknya hanya terngiang di beberapa ritme saja.

Sekitar 6.500 penonton yang datang per harinya memang bisa dijadikan tolak ukur kesuksesan ajang ini. Akan tetapi tidak dengan pilihan venue-nya. Fakta bahwa Stadion Sriwedari sedikit kurang mewakili megahnya nama yang diusung acara ini, dan tidak adanya sajian visual dan lighting menarik maupun latar bangunan tua yang memukau, memang sedikit banyak, cukup berpengaruh. Jarak antara penonton dan musisi yang lumayan jauh juga sempat mengurangi ‘kehangatan’ suasana khas pertunjukan musik. Ditambah dengan pembagian tiga panggung yang sedikit membingungkan dan tertutup oleh pilar yang cukup besar. Namun Stadion Sriwedari tetap menjadi pilihan karena merupakan tempat bersejarah di Solo. Selain menjadi stadion olahraga yang pertama kali dibangun di Indonesia, tempat ini juga menjadi penyelenggaraan Pekan Olah Raga Nasional yang pertama.

Berlanjut di hari berikutnya, yang tampil terlihat lebih variatif dengan hadirnya musisi internasional. Sebut saja Orkestar Trio with Rama Thiruyanam dan Sonofa (Singapura), Albert Chimedza (Zimbabwe) dan Kamal Musallam (Dubai). “Benar-benar memberikan keragaman musik dunia yang cantik,” ujar Dwiki Dharmawan, kurator musik SIEM. Yang menjadi masalah adalah jika keragaman itu hanya dipandang sebagai tradisi, maka tak akan memberi kontribusi yang nyata dalam konteks perkembangan musik modem saat ini. Satu hal yang paling mengharukan dari SIEM adalah penampilan dari Pipa Woman asal Taiwan. Secara mengejutkan, ia membawakan lagu kebangsaan
Indonesia Raya. Ribuan penonton pun serentak berdiri dan menyanyikan lagu kebanggaan Indonesia tersebut, membuat keberagaman tadi sejenak terbalut homogenitas.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s