Yohanes Surya, Merasuki Angka Berumus

Posted: August 26, 2010 in Uncategorized

Teks: Vera Waloeyo
Foto: dok. pribadi

Cita-citanya mulia. Mempersiapkan peneliti Indonesia meraih Nobel tahun 2020.

“In physics, you don’t have to go around making trouble for yourself. Nature does it for you.” -Frank Wilczek, Fisikawan-

Jika harus dirangkum dalam satu kalimat, dunia Prof. Yohanes Surya, PhD sesungguhnya ada di balik angka-angka rumit berumus itu. Baginya, angka-angka itu adalah teman yang membuatnya mampu menjadi Fisikawan hebat. Fisikawan yang kini bercita-cita mempersiapkan peneliti Indonesia meraih Nobel tahun 2020.  “Saya adalah mediator. Saya merasa bahwa saya adalah manusia pilihan yang diciptakan untuk mereka. Ini adalah panggilan pribadi dari Tuhan,” tandasnya.

Pada akhirnya, jawaban itulah yang menjadi cerita awal segala kesuksesan serta dedikasinya pada dunia Fisika. Mengenalnya seolah mengenangkan kembali opini klise yang pernah dicetuskan oleh Albert Einstein: “Love is a better teacher than duty.” Ilmuwan tersebut berbicara tentang cinta. Dan karena cinta pula, Yohanes memilih dunia Fisika. Ada sebuah pesan yang mencakup kepandaian dan keinginan yang tanpa disadari dapat mengungkapkan ekspresinya. Ekspresi yang tertuang dalam deretan angka-angka.

Putra ketujuh dari sembilan bersaudara ini mulai menekuni Fisika MIPA di Universitas Indonesia hingga memperoleh gelar doktor di College of William and Mary, Virginia, Amerika Serikat dengan predikat cum laude. Ia lantas menjadi Consultant of Theorical Physics di Continous Electron Beam Accelerator Facility, Amerika Serikat. Banyak orang menganggapnya sangat beruntung bisa menepa hidup dan sukses di negeri liberty itu. Tapi tidak dengannya. Ia merasa ada sesuatu yang membisikkan telinganya untuk kembali ke Indonesia, mengharumkan tanah air melalui olimpiade fisika. Memang tak bisa dipungkiri, kehidupan Yohanes begitu menyatu dengan pola pikir dan kreativitasnya dalam mengolah angka. Ia ingin mengembangkan fisika di Indonesia. Satu harapan mulia yang hingga kini tetap terpatri dalam benaknya.

Semenjak tahun 1993 hingga 2007, ia telah mengantarkan anak-anak didiknya meraih 54 medali emas, 33 perak dan 42 perunggu dalam berbagai kompetisi fisika tingkat internasional. Semua ia mulai dengan kerja keras. Bapak tiga anak ini menulis, membuat video untuk memudahkan pengajaran fisika, mempersiapkan kuliah, dan merancang soal untuk pelatihan. Tidur pukul 1 pagi dan bangun pukul 4 pun sudah tidak terasa berat baginya. Satu hal yang selalu ia katakan pada anak didiknya adalah bahwa untuk menjadi sukses, tidak mutlak diperlukan bakat yang besar. “Bakat saja tidak cukup. Harus ada kerja keras. Tak perlu skeptis dalam memandang hidup. Fisikawan seperti Schwinger, Feynman atau Gell-Man memang jenius. Tapi Masatoshi Koshiba? Nilai-nilai mata pelajarannya jelek.
Toh ia membuktikan diri bahwa kerja keras mampu membuatnya meraih nobel tahun 2002,” kata Yohanes.

Nobel. Memang itulah tujuan akhir Vice President dariThe First step to Nobel Prize ini. Sangat ambisius. “Saya memang ambisius. Dengan Nobel, Indonesia bisa lebih maju. Coba saja lihat Pakistan. Negaranya miskin. Namun dunia mengatakan bahwa science mereka bagus karena Abdus salam pernah mendapatkan nobel. Cukup terwakili kan?” jawabnya.

Dari apa yang sudah ia lakukan untuk dunia fisika di Indonesia, jelas terasa bahwa kepuasan pribadinya adalah kesuksesan anak didiknya. Namun pemerintah terlalu lalai untuk memberikan ‘perhatian’ lebih kepada mereka sehingga anak-anak pandai ini justru gemilang di negeri orang. Sebut saja Evelyn, anak didik Yohanes angkatan 2002. Ia kini dibimbing oleh Douglas Osheroff, penerima nobel 1996. Meskipun bangga, ia tetap berharap mereka mampu kembali ke asal di mana mereka memulai kesuksesan, Indonesia. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s