Jane Lawalata, Dunia Rekaan Dalam Sebuah Layar Lebar

Posted: May 13, 2010 in he(ART)

Teks: Vera Waloeyo
Foto: Gayatri Suroyo
Ada kalanya senyuman dan ucapan tidak mampu menyampaikan pesan yang tersembunyi. Maka melalui sebuah cerita film yang unik, Jane Lawalata berhasil menyentak dunia perfilman Indonesia atas karya besarnya yang menembus Hollywood.

Film dapat dianalogikan sebagai sebuah gambaran yang menampilkan jejak-jejak masa lampau, masa kini, atau bahkan ramalan mengenai masa depan. Film pun mulai menjadi sarana yang tidak lagi hanya digunakan untuk menampilkan citra bergerak saja, tapi juga untuk ‘mengorasikan’ kepentingan tertentu seperti politik, hak asasi manusia, gaya hidup bahkan kepentingan keluarga. Dari pentingnya arti sebuah keluarga lah perempuan kelahiran Ujung Pandang ini memulai loncatan besar dalam karirnya. Jane Lawalata, sutradara wanita Indonesia pertama yang mampu menembus kiblat perfilman dunia, Hollywood.

Lembaran kesuksesan Jane Lawalata dibuka oleh sebuah tugas kuliahnya di New York Film Academy Los Angeles.“Chelsea, gadis 13 tahun ingin sekali mengikuti kompetisi bernama Chatterbox. Sebuah lomba kecerdasan yang terbuka bagi seluruh SMU di Amerika Serikat”, ujar Jane tentang inti cerita tugas filmnya kala itu. Sinema berjudul Chatterbox tersebut dibuat tanpa lepas dari sebuah makna akan pentingnya keluarga, persahabatan, dan toleransi terhadap diri sendiri maupun orang lain.

Berbincang dengannya pun seolah membuat kami merasa sebagai aktris yang hendak memerankan sebuah karakter dalam filmnya. ”Saat memainkan sebuah peran, semua pemain harus benar-benar keluar dari karakter aslinya”, tandas wanita lulusan jurusan sinema Institut Kesenian Jakarta [IKJ] ini. Film tersebut pun berhasil memikat Chomer Family Films, sebuah rumah produksi di Amerika. Chatterbox diangkat ke layar lebar dan mendapat sambutan yang megah pada premier dunianya,10 Oktober 2009 di University of the District of Columbia, Washington DC. Semua kru dan pemain berasal dari Amerika. Namun nahkoda dari keberhasilan film ini berada di bahwa kendali sang sutradara dan penulis naskah Jane Lawalata.

Naskah yang dipaparkan dalam sebuah film mungkin saja dianggap dapat menunjukkan kemampuan berpikir penulis dan sutradaranya tentang berbagai hal seperti kehidupan, realitas bahkan masalah personal. Agaknya hal tersebut pun berlaku bagi sutradara yang mahir bermain gitar, keyboard dan perkusi ini. “Chatterbox adalah hasil pemikiran saya mengenai kehidupan nyata bahwa keluarga memang memegang peranan yang paling penting dalam hidup,” ujarnya. Satu hal yang akan membuat semua orang langsung mengenali bahwa film yang mereka saksikan merupakan karya seorang Jane Lawalata adalah visualnya yang sangat colourful. “Semua warna yang ada dalam film merupakan cerminan hati saya yang ingin selalu membuat semua penonton gembira.” Namun kegembiraan penonton saat menyaksikan hasil karyanya bukanlah ukuran kesuksesan bagi Jane. Baginya, di saat ia mampu mempertahankan idealisme nya lah, ia dapat menyebut hal tersebut sebagai sebuah kesuksesan besar.

Di satu sisi, Jane juga menyadari bahwa terkadang idealisme mampu mengalahkan komersialisme. Maka dari itu, tanpa harus bersikap munafik, Jane pun tidak ingin membuat dirinya terisolasi dari kiblat dunia film Hollywood yang selama ini menjadi acuannya. Ia juga akan tetap bertumpu pada kekuatan alur, tema dan solusi dari konflik yang disajikan dalam rangkaian cerita filmnya.

”Jika seseorang dapat mencapai semua yang mereka inginkan, lalu apa lagi yang akan mereka lakukan dalam hidup?” Kalimat tersebut sempat terbesit pada dirinya, sebelum akhirnya ia merasa bahwa apa yang sekarang ia lakukan justru barulah awal dari kesuksesan lain yang mungkin sedang menanti“Satu hal yang selalu membuat saya ingin terus berada dalam dunia film adalah bahwa sebenarnya saya tidak tahu apa-apa tentang film. Saya hanya tahu kalau saya suka menonton film dan harus membuat film yang bagus,” tandasnya dengan nada sedikit bercanda.

Film Indonesia yang kini banyak dihiasi dengan beberapa cerita-cerita misteri yang standar membuat Jane semakin yakin bahwa jika ada seseorang yang mampu mengubah semua itu dengan membuat film berkualitas dan mampu dihargai di Amerika, maka dunia perfilman Indonesia akan membaik. “Tujuan saya adalah Hollywood. Saya akan terus membuat film-film berkualitas untuk memperoleh piala OSCAR. Itu target saya,” sahut wanita kelahiran 7 Juni 1973 ini. Jane juga mengaku bahwa rasanya wajar jika ia menginginkan regenerasi yang mampu meraih kesuksesan sepertinya. ”Saya percaya perfilman Indonesia akan mampu menorehkan prestasi yang lebih dari apa yang saya dapatkan”, tandasnya optimis. Optimismenya pula yang telah membangkitkan dirinya sendiri dimana sebagai seorang wanita Indonesia, ia mampu ’menampar’ dunia bahwa Merah Putih memiliki bibit yang berkualitas dalam dunia film.

Seolah bernostalgia ke masa lampau, Jane sempat mengungkapkan bahwa ia tidak pernah terpikir menjadi seperti apa yang ia lakukan sekarang, karena cita-cita awalnya adalah menjadi seorang arsitek. Namun karena depresi lantaran tidak berhasil lulus ujian UMPTN, ia mencari jurusan yang tidak memiliki pelajaran matematika, yaitu Cinematography yang akhirnya ia pelajari di Institut Kesenian Jakarta dan AS. Cerita kesuksesan pun bergulir seiring perjuangannya meningkatkan karier dan demi membuktikan kata-katanya sendiri, “Saya akan menyelesaikan apa yang telah saya mulai”.

Advertisements
Comments
  1. irzaayuputri says:

    ”Jika seseorang dapat mencapai semua yang mereka inginkan, lalu apa lagi yang akan mereka lakukan dalam hidup?”

    Mencapai tujuan adalah esensi hidup menurut saya. Kalau sudah tidak ada tujuan yang dicapai, lalu apa?

  2. verawaloeyo says:

    Makanya Tuhan ga pernah kasih semua yang kita mau. Tujuannya biar kita bisa terusberusaha dan berkarya.
    Terima kasiih irza. Senang artikel nya dibaca. Akan lebih sering dipromosiin biar semua orang bisa baca artikel ini juga :p

  3. verawaloeyo says:

    iiiiiih senaaaaang. thank you sweety.
    stop by every day, you’ll read another inspirational story. hehe amen.
    Tapi belum bener bener jadi euy blognya. masih banyak space kosong. masih sedikit bingung masalah teknis penggunaanya. well, i’m still trying to get through this new toy :p

    • irzaayuputri says:

      Amin 🙂
      Udah baca blognya kak Iga Massardi belum? Lumayan menginspirasi juga loh. Hehe

      Oh iya kak, kalau mau minta info tentang Trax ke kakak boleh ga? Lewat FB atau twitter gitu?

  4. verawaloeyo says:

    belum,nanti coba aku baca deh.
    Boleh, lewat twitter juga bisa. Mau tanya apa tenteng Trax FM? 🙂

  5. verawaloeyo says:

    kirimin aja CV sama application letter nya ke Trax FM , irza.
    Gedung Sarinah Thamrin lantai 8 🙂

    • irzaayuputri says:

      Uhm. Maksud aku gini kak, itu ga khusus buat mahasiswa aja kan? Soalnya waktu itu aku pernah nanya-nanya ke salah satu penyiar Trax tentang magang. Tapi karena waktu itu masih sekolah katanya ga boleh karena takut jadwal bentrok. Nah sekarang kan aku udah lulus SMA dan masih nunggu Universitas aja, boleh ngajuin?

  6. verawaloeyo says:

    kalo udah lulus sekolah, boleh apply irza. tulis aja bagian program (produser). Good luck, sweety. 🙂

    • irzaayuputri says:

      Iya kak makasih infonya. Sudah sempat bertanya kepada Kak Tyo dan Kak Reyzee juga tentang magang dan sudah dapat cukup banyak info. Wish me luck ya kak 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s