Isma Kania Dewi, Sepenggal Kisah Pelintas Udara

Posted: January 23, 2010 in he(ART)

Teks: Vera Waloeyo
At the end of the day,
hanya peran kita sebagai ibu dan istri yang baik yang nantinya akan menjadi tabungan dan investasi paling besar di masa depan kita. -Isma Kania Dewi-

Wanita itu duduk termangu sambil menunggu kedatangan ibunya di sebuah bandara. Hampir setiap bulan ia melakukan hal itu lantaran harus menjemput sang bunda yang mengenyam pendidikan di luar negeri. Ia sering sekali melihat pesawat take off dan landing. Ia juga memandang betapa gagahnya pilot-pilot lalu lalang di bandara. “Wuaaaaah I thought it was beautiful,” katanya. Wanita itu lantas berpikir untuk menjadi seorang pilot. Tidak peduli betapa keluarganya sama sekali tidak memiliki latar belakang di dunia penerbangan, ia tetap teguh ingin menjadi pilot.

Ternyata wanita itu tidak sekadar berani bermimpi. Siapa bilang hidup adalah mimpi? Hidup adalah bagaimana menjalani mimpi tersebut. Mungkin afirmasi itulah yang terpatri dalam otaknya. Selepas lulus SMA Regina Pacis, Bogor, ia mendapatkan beasiswa untuk menuntut ilmu menjadi pilot di Pusat Latihan Penerbangan Curug di Tangerang hingga memperoleh Commercial Pilot License Multi Engine Instructor Rating. Ia lantas bergabung bersama Garuda pada tahun 1998 dan berhasil menerbangkan Boeing 737 300-400-500 series, pesawat komersil pertamanya.

Siklus hidup wanita ini ternyata sungguh mujur. Ia kini adalah pilot Qatar Airways. Ia telah menerbangkan pesawat hingga ke Austria, Rusia dan Abu Dhabi. “Saya termasuk beruntung mendapat dukungan hebat dari keluarga hingga akhirnya bisa menyaksikan luasnya dunia dan indahnya langit di angkasa,” bisiknya. Meski harus berpindah-pindah ke berbagai negara, ia sama sekali tidak pernah merasa berat atau lelah. Usut punya usut, ternyata rahasia yang utama adalah kesetiaan suaminya yang juga seorang pilot. “Selama terbangnya bersama suami dan anak-anak, saya sih enjoy saja,” jawabnya dengan tawa lepas.

Tidak bermaksud menggampangkan hidupnya, tapi wanita ini sungguh terlihat sangat santai dan menikmati hidup tanpa beban yang harus dibesar-besarkan. Hal ini terlihat dari kesetiaannya untuk tetap berada dalam ruang kokpit saat hari raya tiba. “Kalau tidak dapat cuti dan harus terbang, diniatkan saja dalam hati untuk menolong orang lain yang juga mungkin sedang menempuh perjalanan untuk bisa berlebaran bersama sanak keluarga,” jawab wanita ini tegas.

Lepas dari kodratnya sebagai seorang wanita, siapapun yang telah berhasil menerbangkan pesawat dengan ratusan penumpang di dalamnya, tidak dapat dianggap remeh. Wanita ini dengan segenap jiwa menumbuhkan rasa tanggung jawab yang tinggi untuk membawa semua penumpang dengan selamat.

Nampaknya ia memilih RA. Kartini sebagai panutannya. Ketika mengejar haknya sebagai wanita, Ibu Kartini tidak melupakan kewajibannya sebagai wanita. “Saya juga ingin sekali jadi wanita yang seimbang dalam menuntut hak dan menjalankan kewajiban. Perempuan Indonesia bisa jadi apa saja yang dia mau, but at the end of the day, hanya peran kita sebagai ibu dan istri yang baik yang nantinya akan menjadi tabungan dan investasi paling besar di masa depan kita,” kata wanita yang sempat terinspirasi oleh film Top Gun ini untuk menjadi pilot.

Motto hidupnya adalah Safety first. Sangat ringkas dengan makna yang selalu membuat orang tenang. Kini, apa lagi yang ingin dicapai wanita ini? “Saya ingin menunaikan ibadah haji,” tandasnya sambil mengamini doanya sendiri.

Kisah ini mungkin memang terlalu singkat untuk memaknai perjuangan seorang wanita dengan keinginan menggebu untuk menjadi pilot dunia. Ia adalah permata bagi keluarganya. Ia adalah pengendali pesawat dengan ratusan penumpang yang menggantungkan nyawa kepadanya. Ia adalah wanita dengan senyum yang tak henti merekah. Ia adalah Isma Kania Dewi. Seorang wanita dengan keteguhan yang abadi untuk mengabdikan hidupnya dalam dunia penerbangan. Dunia yang telah membuka sekaligus menutup sepenggal kisah ini.

Advertisements
Comments
  1. irzaayuputri says:

    Aku juga sedang dalam proses untuk menggampai mimpi 🙂 Mengalami pahitnya dianggap aneh oleh semua orang, bahkan guru-guru di sekolah 😥 Tapi itu semua ga pernah membuat aku berhenti.

  2. vera waloeyo says:

    nice. karena punya mimpi tuh penting banget yah, irza 🙂
    semangat yah, whatever the reason is. karena sebenernya, tekanan2itu yang justru bikin kita kuat 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s