Sapuan Imaji Isogawa

Posted: July 17, 2012 in Uncategorized

“Fashion can be art, and art can be fashion. Both are a reflection of society and the times we live in.” –Akira Isogawa-

Selama kita mampu memandang batas perbedaan tersebut dengan paradigma yang positif, maka Australia, Amerika dan Eropa akan menghormati fashion Asia.” –Akira Isogawa”

Potret kreatifitasnya bersinergi dengan sebuah perspektif menarik akan uniknya refleksi seni dan fashion. Nilai historis akan tradisi negeri matahari pun disublimasikan pada pusaran nilai-nilai logis dekoratif yang feminin. Estetis dengan balutan tehnik tradisional desain khas negeri Jepang. Layaknya nada dalam musik, karya desainnya mampu beresonansi, membentuk orkestra yang berirama.

Akira Isogawa. Sebuah nama yang langsung membawa angan kita menuju negeri Sakura. Ia memang seorang putra Jepang. Lahir dan dibesarkan di Kyoto, sebuah kota yang terletak di Pulau Honshu. Pria 48 tahun ini lantas memilin mimpi, hijrah ke Sydney pada usia yang cukup muda. 21 tahun. Isogawa pun memutuskan untuk mendalami dunia fashion di Sydney Institute of Technology pada tahun 1985. Delapan tahun berselang, kemampuannya meracik ‘resep’ timur dengan padanan barat, berhasil dibuktikan melalui pembukaan butik pertamanya di Woollahra, Sydney.
Ia menjadi salah satu pelaku mode yang menggerakkan roda industri fashion Asia di Australia. Kehadirannya mampu memberikan darah segar bagi perkembangan fashion di Australia yang kala itu masih dipengaruhi oleh Victorian Fashion. Memperkenalkan fashion dengan cara yang unik, koleksi Autumn/Winter Etheric Zest nya berhasil dipresentasikan di Tranoi, Paris pada 1999. Rupanya, Isogawa meletakkan landasan fashionnya  melalui dua cara. “Terkadang saya menggambar berdasarkan tradisi sejarah Jepang dengan pendekatan ala ‘barat’. Atau, alternatif lainnya adalah saya bisa saja terinspirasi oleh budaya Eropa, tapi diinterpretasikan melalui tata cara Jepang,” ujarnya pada AMICA Indonesia.

Budaya timur dan barat memang ibarat seni klasik dan kontemporer. Dua masa yang berbeda. Namun, bagi Isogawa, keduanya memiliki hubungan yang erat. Dijelaskannya, para desainer kini banyak terinspirasi oleh budaya-budaya unik karena mereka berkesempatan menjelajahi berbagai negara. Disinilah letak magisnya. Jurang perbedaan budaya yang begitu besar kini sudah semakin sempit.

Peraih gelar Australian Designer of the Year dan Women’s wear Designer of the Year dari Australian Fashion Industry Awards ini juga yakin bahwa fashion di Asia sedikit banyak cukup mempengaruhi perkembangan mode di Australia, Amerika dan Eropa. “Selama kita mampu memandang batas perbedaan tersebut dengan paradigma yang positif, Australia, Amerika dan Eropa akan menghormati fashion Asia,” ia optimis.

 

SHIBORI

Akira Isogawa tampaknya mewarisi sifat kebanyakan orang di negeri Kaisar Akihito. Pekerja keras. Hal ini membuahkan hasil beberapa penghargaan seperti Fashion  of  the Year  di  Powerhouse Museum, Sydney dan disambut dengan dibukanya dua butik lain di Brisbane dan Melbourne pada 2004.

Butiknya di kawasan GPO, Bourke Street, Melbourne, cukup mengintimidasi dan sangat deskontruktif. Perasaan itulah yang muncul ketika AMICA memasuki ruang dengan pintu-pintu kayu beramplas. Dinding-dindingnya seolah bercengkrama dengan refleksi wajah Anda yang tiba-tiba saja muncul melalui cermin raksasa. Seram.

Saat Anda berkomitmen untuk masuk ke dalam ruang itu, Anda akan merasa terekspos dan gamang. Ini bak plot dalam film Green Mile. Mati. Tidak ada musik. Tidak ada sapaan dari penjaga butik. Sangat dingin, tenang dan kaku. Tapakan sepatu Anda pun akan terasa mengggema ke seluruh ruangan. Inilah kesan yang rupanya ingin Isogawa sampaikan.

Kreasi nya pun tidak berbeda jauh. Misterius, meski tetap memperlihatkan garis feminitas yang tajam. Ia bermain dengan textile design yang menggunakan tehnik Shibori. Sebuah istilah Jepang dalam mewarnai kain dengan cara diikat, dilipat (origami), atau disimpul. Shibori yang sudah dikenal sejak abad ke-8 ini diciptakan dengan cara menghiasi bahan tekstil, membuat pola pada bahannya, dan menutup bagian tertentu sebelum  dicelup. Cukup istimewa, karena akan menampilkan unsur tiga dimensi pada tekstur kainnya.

Akira masih berkonsentrasi pada women’s fashion yang cukup banyak menggunakan bahan silk taffeta kontemporer, dengan tetap mempertahankan kualitas orisinilnya. Interpretasi baru terhadap ruching (istilah prancis untuk menyatukan lipatan) juga dipercaya pria ramah ini dapat meningkatkan bayangan lembut dan menambah volume pada karyanya. Tidak lupa, sentuhan kain tradisional Jepang seperti Hakama dan Kimono juga menjadi unsur penting untuk menjaga distingtifitas. Inilah sebuah definisi cerdas atas modernitas yang menarik.

INTERPRETASI BATIK

Andai Akira Isogawa tidak mengagungkan seni, mungkin saja kreasinya seolah tidak bernyawa. Keduanya adalah rangkaian yang mutlak. Fashion can be art, and art can be fashion. Both are a reflection of society and the times we live in,” ujar pria yang baru-baru ini berkolaborasi dengan Australian airline, Qantas, mendesain aksesoris mewah bagi penumpang kelas satu.

Seni telah membawa Isogawa dalam berbagai peleburan budaya yang manis. Salah satunya adalah inspirasi budaya batik asal Indonesia. “Saya telah menggunakan banyak motif yang terinspirasi dari tekstil Indonesia seperti batik dan ikat. Semuanya dengan cepat masuk dalam imaji saya,” ujar desainer yang juga sempat menampilkan karyanya di Jakarta Fashion Week, empat tahun lalu.

Meskipun terkesan hanya berkutat pada seni dan budaya, masih ada banyak kemungkinan lain untuk dijadikan inspirasi berkaryanya. “Beberapa desainer mungkin akan menengok ke masa lampau, beberapa lainnya akan asyik menenggelamkan diri pada apa yang kini sedang terjadi, dan sisanya akan menatap masa depan,” kata Isogawa. Namun, seperti halnya kehidupan, fashion yang dianut Isogawa adalah pilihan. Yang jelas, ia telah berhasil membanggakan warga Jepang dan Asia, dengan sapuan imaji garis desainnya.

Kreasi Kurasi Seni

Posted: July 16, 2012 in Uncategorized

Penulis: Vera Waloeyo

Kemampuan memecahkan gagasan-gagasan baru di dunia fotografi kontemporer  telah membawa beberapa seniman Indonesia ke dalam sebuah pameran fotografi di Centre of Contemporary Photography, Melbourne belum lama ini. “Gagasan, bahasa visual, representasi visual dan konteks menjadi persoalan yang sama pentingnya dengan apa yang terekam jelas dalam pikiran masing-masing seniman dalam pameran kali ini,” terang Jim Allen Abel, salah satu seniman yang ikut memamerkan karya seninya dalam pameran bertajuk Contemporary Photography From Indonesia.

Seniman: Agan Harahap

Kristi Monfries dan George Sedwick mengkuratori sejumlah karya fotografi hasil jepretan Jim Allen Abel, Wimo Ambala Bayang, Akiq AW, Agan Harahap, dan Angki Purbandono. Perbedaan gagasan artistik dalam pameran kali ini mampu melebur melalui sebuah benang merah bahwa yang berpameran adalah seniman, bukan fotografer. “Seniman memotret apa yang mereka pikirkan, fotografer memotret apa yang mereka lihat,” jelas Wimo Ambala Bayang, seniman kelahiran Magelang.

Seniman: Jim Allen Abel

Ia berhasil menciptakan sebuah karya fotografi yang mengkritik kenyataan politik dan budaya Indonesia. Sebuah renungan dahsyat mengenai sejarah kerajaan-kerajaan di Jawa dan kerajaan yang terletak di tengah gunung dan laut sebagai penjaga, berhasil ia transformasikan ke dalam sebuah karya fotografi yang kontekstual.

Seni fotografi memang mungkin bukan semata bahasa visual atau representasi dari realitas saja. Seperti yang disampaikan Wimo, mereka merekam apa yang terlintas di otak melalui sebuah lensa kamera. Inilah sebuah pembuktian atas kemampuan dalam memecahkan gagasan-gagasan baru di dunia fotografi kontemporer.

Teks: Vera Waloeyo
Foto: Insan Obi dan Milan-Sladek-Festival.de

Wolfgang Amadeus Mozart mengekspresikan dirinya melalui dentingan nada dan William Shakespeare melalui rangkaian kata puitis. Namun Milan Sladek cukup berekspresi melalui gerak tubuhnya. Gerak tubuh dengan makna mendalam yang dituangkan dalam pencitraan kuat tak berkata. Kemampuan berbicara dalam ’kebisuan’ nya telah menyadarkan dunia seni bahwa mengungkapkan sesuatu memang tidak selamanya harus selalu menggunakan suara atau kata-kata.

Gutten tag, Ich heisse Vera. Es freut mich ihnen Herr Milan Sladek zu treffen.” Kalimat sederhana dalam bahasa Jerman itu mati-matian saya pelajari seharian penuh dengan pelafalan yang benar hanya untuk memberikan salam hangat pada Milan Sladek. Namun nyatanya kata-kata tersebut sama sekali tidak terucap saat bertemu dengannya. Bukan karena lupa atau terlalu takut salah dalam mengucapkannya, tapi karena ada sesuatu yang lebih menarik dan sulit dijelaskan tentang pria berusia 72 tahun ini. Sesuatu yang membuatnya mampu menjadi seorang Master of Pantomime. Maaf, saya pun nampaknya lebih senang bertemu dengannya dibandingkan jika harus bertemu Presiden Indonesia saat ini.

Ramah, hangat dan murah senyum. Tiga kata awal yang dapat AMICA rasakan saat pertama kali bertemu Milan Sladek. Sosoknya sangat sederhana dan kharismatik dengan smiling face yang dimilikinya. Sembari menyeduh secangkir teh, ia pun melirik ke majalah AMICA yang kami bawa sambil berkata ‘oh, das ist eine gute zeit schrift’ yang berarti ‘cover majalah yang bagus’. Meski merasa tersanjung, kami sebenarnya sedikit kesusahan dalam berkomunikasi dengannya, karena ia lebih senang menggunakan bahasa Jerman daripada bahasa Inggris. Beruntung, kami didampingi oleh Deny Tjakra Adisurja, translator yang mampu memaknai semua ucapan Milan Sladek dengan ekspresi yang sama persis dengan yang Milan ungkapkan.

Nama depan yang dimiliki pria sepuh ini sangat identik dengan Italia. Paradigma Anda pun tidak dapat di cap salah jika berpikir demikian, karena kota Milan memang berada di negara pizza tersebut. Namun ia bukanlah warga Milan. Ia bahkan sama sekali tidak memiliki darah Italia dari kedua orang tuanya. ”Milan adalah nama salah satu pendiri negara Slovakia dan orang tua saya sangat simpatik padanya. Saya bangga dilahirkan di Slovakia meskipun tumbuh di Jerman.”

Photo by Milan-Sladek-Festival.de

Salah satu pementasan Milan, DIE BEULE (1960, 1963)

Milan Sladek adalah seorang pantomimer dunia, pemimpin teater dan pembuat topeng serta pelukis. Ia telah membenamkan hidupnya pada dunia pantomim sejak setengah abad yang lalu. Untuk merayakan 50 tahun karirnya itu, ia akan membuka sebuah sekolah Pantomim di Jerman. Sebuah pencapaian yang sudah sangat lama ingin ia wujudkan. ”Apa yang kita lakukan sehari-hari sudah mewakili gerak pantomim. Selama masih memiliki tenaga dan usia, pantomim akan terus menjadi tapakan hidup saya. Selama sejarah manusia dapat terus bergulir, pantomim pun akan tetap menjadi bagian dari sejarah kehidupan saya. Pantomim adalah hidup saya,” ujar kakek yang memiliki dua cucu ini. Dalam kurun waktu tersebut, Milan pun terus mengembangkan gaya pantomim yang individual dan modern hingga sekarang. Meskipun terinspirasi dari Jean-Gaspard Deburau, seorang pemain pantomim abad ke-19, Milan tetap memiliki gaya tersendiri melalui kecintaanya mempelajari teater Kabuki dari Jepang.

BERTUTUR DALAM ’KEBISUAN’

Tanpa suara, tanpa kata dan tanpa dialog. Hanya gerak tubuh yang ekspresif dan interpretasi penonton terhadap gerakan di panggung. Modal itulah yang membuat Milan Sladek mendirikan kelompok pantomim pertamanya di Slovakia pada usia 21 tahun hingga akhirnya mendapat penghargaan dari Menteri Kebudayaan Prague pada tahun 1963 dan penghargaan utama festival teater Istanbul pada tahun 1967. Meski minim kata, baginya berpantomim adalah sebuah moment dimana ia dapat mengekspresikan segala sesuatu dengan leluasa. Jika musisi Jimi Hendrix mengatakan, ”music doesn’t lie”, Milan Sladek menjawab, ”Bahasa tubuh lah yang tak pernah berbohong. Gunakan bahasa tubuh Anda untuk berbicara, karena bahasa tubuh adalah bahasa yang paling jujur.” Secara tersirat, Milan yang diam-diam sangat menyukai bakso ini mengajarkan kita bahwa bahasa tubuh adalah sesuatu yang tidak dapat dimanipulasi, karena bersumber dari hati.

DER LUMPENHÄNDLER (1967, 1981)

Sebuah ungkapan cinta pada seseorang yang hanya diekspresikan melalui kata-kata belum tentu diucapkan dengan jujur. Namun, perasaan yang diungkapkan melalui gerak tubuh, akan menjadi sesuatu yang lebih membekas bagi orang lain. Untuk itu, Milan membiarkan semua orang memiliki pandangan, pemikiran, dan fantasi nya masing-masing tentang sebuah gerak yang ia lakonkan. ”Saya selalu percaya dengan kekuatan non-verbal yang mampu memperkuat pesan yang ingin disampaikan,” ujarnya sembari mengusap kepala. Milan memang sungguh jenaka dengan bahasa tubuhnya. Ekspresi-ekspresinya mengundang senyum, bahkan tawa. Sayang, kami tidak dapat langsung memahami ucapannya sebelum sang penerjemah mengartikannya untuk kami.

Entah hawa positif apa yang merasukinya, Milan merasa bahwa ia sama sekali tidak ingin melakukan apapun selain pantomim. Ia pun akhirnya membuka Theatre Kefka yang merupakan satu-satunya teater pantomim tetap Eropa Barat pada zaman itu. Milan pula yang menginisiatifkan Festival Pantomim Internasional pertama, ”Gaukler”. Sedikit menyombongkan diri, ia merasa bahwa keberhasilannya ini sangat mengesankan karena sejak tahun 1976, festival itu dapat dilaksanakan setiap tahun hingga 1987. ”Saya ingin mengapreasiasi diri saya sendiri, dan kesuksesan inilah yang menjadi tanda bahwa saya akan terus ‘terpenjara’ dalam kerangkeng pantomim.” Satu hal yang juga membuatnya terus berada dalam dunia ’kebisuan’ ini adalah bahwa ia mampu bertutur dengan cara menggambarkan setiap karakter secara sempurna meskipun tak sepatah katapun terucap dari mulutnya. Ia ingin mempersembahkan sebuah tontonan seni berkelas yang ‘memaksa’ Anda belajar memahami keheningan penuh makna. Makna yang mungkin akan berbeda jika Anda menyaksikan pertunjukan teater dengan aktor yang memainkan peran dengan kata-kata.

Teater dan pantomim adalah dua hal yang berbeda”, tandas sang maestro. Uniknya, hingga tulisan ini kami buat, Milan sama sekali belum pernah menyaksikan pertunjukan teater atau pun pantomim. Namun, ia merasa belum pernah mengalami kegagalan dalam menghayati peran yang ia lakonkan. Satu kesulitan yang ia rasakan adalah saat ia membuat sebuah pementasan pantomim di Jepang. Sebuah

adegan ‘memaksa’ Milan melakukan gerakan dimana satu pemain memukul pantat pemain lain. Baginya ini wajar saja. Akan tetapi, di Jepang adalah sesuatu yang sangat tidak sopan dan tidak boleh dilakukan. Dilema pun mulai merasukinya, karena adegan itulah yang merupakan kekuatan ceritanya. Dengan sangat berat hati, Milan tetap meloloskan gerakan tersebut, meski semua penonton pada saat itu tertawa menyaksikannya.

DON JUAN

Sembari menggerakkan tubuhnya di atas kursi rotan yang unik, Milan melakonkan beberapa bahasa gerak yang ia anggap sebagai lukisan dengan frame-frame menarik. Ia mengolah semua gerak yang ia ciptakan sendiri menjadi sebuah pementasan teater pantomim berjudul Don Juan yang dipentaskan di Jakarta beberapa waktu lalu. Berkat kepiawaiannya, ia mengadopsi Don Juan karya Christoph Willibald Ritter von Gluck yang biasanya dibawakan dalam bentuk tarian balet klasik. Tetap membisu, ia mampu menghidupkan karya tersebut melalui mimik muka, gerak tubuh dan isyarat. Bagi Milan Sladek, menyutradarai pementasan pantomim dengan pemain-pemain asal Indonesia adalah hal yang unik. Ia tertantang untuk membuat para pemain itu mengerti apa yang ia inginkan dengan segala keterbatasan bahasa. Di sisi lain, dengan ekspresi dalam diamnya yang luar biasa, para pemain tersebut mampu menginterpretasikan setiap gerak yang diinginkan Milan.

Perbincangan kami pun selesai dengan coretan penanya pada buku kami yang menggambarkan logo khas milik Milan Sladek. Sebuah tulip yang terhisap dari mulut tanpa kata. Sebelum mengantar kami pulang pun, ia meminta kami untuk memainkan gerak pantomim bersamanya. Di luar dugaan, sangat tidak mudah menirukan bahasa tubuhnya. Namun, Milan memang hebat. Kemampuan ‘berbicara’ dalam ‘kebisuan’ nya mampu diinterpretasikan dengan benar oleh semua orang. Atau mungkin karena kharismanya lah yang membuatnya hebat? Silakan maknai sendiri.

SIRKUS DIANTARA TUMPUKAN KERANG

Posted: May 14, 2012 in Uncategorized
Tags:

Teks: Vera Waloeyo
Foto: Adi Nugroho

Bau amis menusuk dari tumpukan kulit kerang hijau di Kampung Nelayan Cilincing, Jakarta Utara. Perkampungan itu pun bagaikan sebuah rumah singgah bagi ribuan lalat yang beterbangan hampir di setiap langkah. Semua warga tinggal di dalam rumah yang sangat kecil dan dipisahkan oleh gang sempit. Lingkungan mereka juga dikelilingi oleh laut, tempat pengeringan ikan asin dan tempat kapal rusak. Sebuah gambaran memilukan di salah satu sudut Jakarta sementara mantan Gubernur Sutiyoso sempat sibuk berkonsentrasi menjadikan Jakarta sebagai kota megapolitan. Bagi sebuah keterpaksaan untuk menghidupi kebutuhan sehari-hari, mungkin hal itu bisa ditolerir, tapi bagaimana jika tempat seperti ini menjadi tempat belajar bagi anak-anak?

Suasana perkampungan Cilincing

Inikah perkampungan yang dijadikan tempat belajar sirkus? Adakah yang berminat belajar sirkus di tempat dan keadaan seperti ini?” Pertanyaan-pertanyaan inilah yang sempat mengganggu hingga akhirnya Dan Roberts, seorang warga kebangsaan Amerika Serikat dengan lincahnya mengajak kami menulusuri setiap gang menuju tempat belajar bermain sirkus. “Kadieu, neng. Awas kotor”, tandas salah seorang penduduk pada saya yang tampak masih sedikit enggan berdamai dengan keadaan.

 

Gambaran kehidupan warga Cilincing

Dari kejauhan terlihat sekumpulan anak-anak berusia 9-14 tahun menyambut Dan Roberts yang membawa beberapa alat bermain sirkus. Kegiatan ini rutin dilakukan setiap Senin, Rabu dan Jumat mulai pukul 10.00 hingga 14.00. Tanpa komando, anak-anak tersebut langsung berlatih lempar bola, gelang, tongkat, piring, juggling dan aksi lainnya. Tawa lepas dan riang pun terpancar pada setiap wajah polos mereka. Pemandangan yang sangat mengharukan jika menengok kembali lingkungan perkampungan mereka yang sangat dekat dengan definisi kumuh.

Saat pertama datang ke kampung ini, semua orang berteriak hei bule..hahaha mau kemana, mister? Sebenarnya saya sedikit tersinggung. Tapi saat kedua kalinya datang dengan mengenakan pakaian badut dan bola merah di hidung, semua orang tertawa riang dan bermain bersama saya. Hidung merah inilah yang menyatukan kami,” tandas Dan Roberts yang mengenyam pendidikan SMP dan SMA di Jakarta International School sebelum akhirnya menjadi pemain sirkus profesional di Chicago, AS. Dan Roberts memulai Hidung Merah Circus pada Februari 2008 sebagai sebuah ekspedisi untuk Lembaga Swadaya Masyarakat yang diakui dunia internasional Clowns without Borders setelah melakukan kunjungan ke beberapa kampung di Jakarta.

Kak Dan (begitu anak-anak memanggil Dan Roberts) ayo main,” sahut Wisnu dengan riang. “Iya, Mas Dan, kita bermain dan memakai hidung merah ini,” tambah AMICA yang sangat senang bermain dengan anak-anak tersebut. Kak Dan pun mulai menemani anak-anak bermain sembari mengajari mereka membaca novel-novel yang disediakan. “Senang rasanya melihat mereka menikmati aktivitas ini. Di Amerika banyak sekali yayasan-yayasan semacam ini, tapi di Indonesia sangatlah jarang. Itu sebabnya saya berada di sini dan melakukannya dengan ikhlas demi anak-anak,”jelas pria berusia 25 tahun ini.

Meski peluh terlihat jelas di wajahnya, kak Dan tetap antusias bermain bersama mereka. Kak Dan juga berharap suatu saat akan ada penerusnya yang mampu mengajari anak-anak bermain sirkus.“Karena tidak akan selamanya berada di sini, harapan saya adalah bahwa dengan kehadiran orang Indonesia sebagai pengganti saya, anak-anak dapat lebih merasakan ketulusan yang diberikan dari darah yang sama, Indonesia,”ujarnya. Semoga saja impian kak Dan tidak hanya sebatas ‘teman tidur’, mengingat masih banyaknya warga Jakarta yang lebih mementingkan hedonisme semata.

Text and Styling   (Vera Waloeyo)
Photo (Hary Subastian)
Model  (Anna- JIM)

“Bali adalah jendela dunia. Saya tidak akan meninggalkan Bali, karena di sinilah saya dapat mengekspresikan dunia saya sendiri sebagai desainer.” -Oka Diputra-

“When a person is in fashion, all they do is right.” – Lord Chesterfield-

Kala banyak pelaku mode belajar dan berkiblat pada kencangnya hembusan angin Barat, Oka Diputra justru betah berbasis di pulau Bali dengan ornamentasi kesederhanaan. Bertemu dengannya seolah menjadi jawaban atas rasa penasaran kami pada sosok ramah yang selama ini hanya kami kenali dari suara dan sebuah pesan singkat melalui telepon genggam. ”Oh… AMICA yah. Wah, terima kasih sudah mau mengangkat profil saya. Senang sekali. Tapi saya tinggal di Bali. Bagaimana ya?” jawab Oka melalui SMS.

Beruntung tidak lama kemudian, Oka dijadwalkan membuka pergelaran Jakarta Fashion and Food Festival. Meski hanya satu hari berada di Jakarta, ia menyempatkan bertemu AMICA di pagi hari dan rela mengubah jadwal penerbangannya lebih pagi. Tidak mudah menuangkan cerita hidupnya dalam lembaran sebuah kata. Terlalu banyak hal unik yang melekat dari dirinya. Sosoknya sebagai pria Bali, desainer fashion Indonesia yang berkompetisi dalam lingkup internasional, juga sebagai pebisnis sejati seakan menunjukkan bahwa hidupnya sangat dinamis.

Oka Diputra adalah salah seorang penggerak roda industri fashion Indonesia yang kini banyak menghabiskan waktunya berkreativitas ke mancanegara untuk menangkap inspirasi. Inspirasi yang dituangkan dalam sketsa-sketsa pola indah yang menghiasi ratusan panggung fashion. ”Inspirasi terbesar saya berasal dari panggilan jiwa untuk terus melakukan diving. Makhluk-makhluk indah di dalamnya selalu menyalurkan sebuah nafas baru untuk membuat rancangan yang unik,” ujarnya. Tak heran ia pernah membuat koleksi berbentuk koral yang ditampilkan dalam rangkaian kegiatan fashion week di berbagai negara. Namun mimpi Oka untuk menjadi desainer fashion harus melewati tebing yang cukup besar saat sang ibu memberikan komentar pedasnya, “Memangnya apa yang dapat dibanggakan dengan menjadi desainer? Mana bukti yang dapat kamu tunjukkan,” ujar Oka yang dengan lucu menirukan mimik dan gaya ibunya, ketika ia belum sehebat saat ini. Komentar pedas itu pun membawa Oka ke dalam muara menggebu-gebu untuk membuka butik pertamanya yang secara keuangan dibantu oleh sahabatnya.

Dengan konsep ready to wear, Oka memulai apa yang ingin terus ia lanjutkan hingga pikiran tak lagi sanggup menampung kreativitasnya. ”Saya selalu mengikuti apa yang hati ini inginkan. Itu sebabnya saya tak pernah menyelesaikan kursus saya pada jurusan desain grafis di Universitas Udayana Bali,” ujarnya. Ada sesuatu yang meraung-raung pikirannya dan itu adalah fashion. Setidaknya, selama 15 tahun menenggelamkan diri pada industri fashion, Oka telah memiliki 5 butik di Bali, di antaranya Atelier Le Chat di Ubud, Putu di Noto Ubud dan Okane di Kuta. Ia bahkan memiliki buyer di Tokyo, Prancis, Spanyol dan menjadi distributor Kiriaki Dress Antistress di Yunani, MANTRA di Thailand serta NADA di Kanada. Sepak terjangnya pun semakin membanggakan saat ia menggelar Jardin d’Hiver, fashion show tahunan Oka yang diselenggarakan Nusa Dua Beach, Bali.

I LOVE MONEY

”Kepribadian saya seperti bunglon. Terkadang kesederhanaan melekat pada diri saya. Di lain pihak, hingar-bingar pesta pun mampu menarik saya dari rasa tenang itu,” tukas Oka. Pernyataan tersebut jelas memberikan persepsi baru. Di balik megahnya hasil rancangan baju kelas dunia yang diciptakan, nafas kesederhanaan masih dijadikan salah satu senjata untuk menguatkan hasilnya. Terus terang, lepas dari atributnya sebagai desainer fashion, berbincang dengannya memberikan pelajaran hidup yang berarti. ”Saya mencintai fashion. Itu sebabnya saya masih berkutat dalam dunia ini.” Pernyataan tersebut mungkin terdengar sangat klise, sampai akhirnya ia menyatakan bahwa apa yang ia lakukan selama ini memang karena uang. “I love Money. Hahaha…,” tukasnya seraya tertawa lepas. Sangat jujur.

Keberhasilan Oka merupakan bentuk akumulasi dari talenta dan keramahannya berteman dengan banyak desainer fashion lainnya di Bali seperti Dina Midiani, Mardiana Ika, Putu Aliki dan Ali Charisma yang juga tergabung dalam Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI). Mereka pun rajin menyelenggarakan Bali Fashion Week dan Fashion Tendance Bali, karena baginya, desainer harus mampu menunjukkan eksistensi dan keandalan rancangannya melalui perhelatan fashion show. “Bali adalah jendela dunia. Saya tidak akan meninggalkan Bali, karena di sinilah saya dapat mengekspresikan dunia saya sendiri sebagai desainer.” Sebagai tujuan wisata dunia, Bali mampu menarik banyak buyer, dan berkat para buyer ini, Oka mampu memperluas jaringan dan menjual desainnya ke enam negara seperti Amerika Serikat, Spanyol, Itali, Yunani, Brazil dan Australia.

Bersama para sahabat sesama desainer, Oka turut berpartisipasi dalam Hong Kong Fashion Week. Prestasi ini tentunya sangat menggembirakan, mengingat keterlibatannya dalam ranah fashion tingkat dunia itu berlangsung secara reguler. “Hong Kong Fashion Week dapat disiratkan sebagai sebuah langkah bisnis yang terprogram untuk mempromosikan rancangan saya. Ibaratnya, sekali merangkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Saya tidak perlu memproduksi rancangan terbaru dalam jumlah banyak. Para buyer akan datang, melihat dan membeli hasil kreativitas saya,” tandas pria yang menjadi satu satunya wakil Indonesia dalam Asia Fashion Exchange di Singapura ini.

Ia pun selalu memahami makna dari semua desain yang ia gali, agar tidak hanya sekadar menjadi benda jadi, tapi juga sebuah seni. Seni yang melibatkan perasaannya dalam mengerjakan setiap detail jahitan dan pola yang ia coretkan pada lembaran sketsa. Baginya, industri fashion selalu haus akan inovasi dan imajinasi tanpa batas untuk menawarkan karya-karya yang mampu menjawab keinginan dan kepuasan buyer. Saat semua klien merasa bahagia dengan hasil karyanya, di situlah Oka menemukan arti dari kepuasan yang sesungguhnya. “I feel glad when they’re glad. It’s that simple,” ujar Oka dengan senyum sumringahnya.


EGO PROJECT

Oka yang turut mengharumkan nama bangsa dengan berpartisipasi dalam KL Asia Fashion Week memang selalu senang melihat kebahagian orang lain atas hasil kerjanya. Namun bukan berarti ia tidak memiliki idealisme setiap kali membuat karya baru. “Saya selalu menciptakan ego project untuk kepuasan batin. Saya tidak peduli apakah orang lain menyukai rancangan saya atau tidak, yang terpenting saya merasakan kepuasan batin tanpa batas.” Hal itu disadari betul oleh Oka, bahwa seorang desainer mutlak memiliki ciri unik yang lahir dari karakter masing-masing. Sleek, clean dan tanpa frill yang rumit adalah signature dari semua hasil eksplorasinya dalam berkreasi. Saat semua karya Ego Project dipamerkan dalam butik atau fashion week, Oka merasa bahwa hanya ia lah yang mengagumi karya itu. Namun saat para buyer pun turut menyukainya, itulah arti kepuasan yang benar-benar nyata.

Kepuasannya semakin memuncak ketika banyak desainer muda mulai mengikuti atau bahkan meniru hasil pola pikir karyanya. Namun Oka pun sadar bahwa hal tersebut sebenarnya merupakan sebuah pujian yang terselubung. “Bangga. Sangat bangga. Hanya itu yang mungkin dapat saya rasakan ketika banyak desainer muda memilih saya sebagai acuan mereka untuk mengeksplorasi dunia fashion,” ujarnya. Ia yakin, hanya orang-orang yang mampu mengembangkan kreativitas secara positiflah yang nantinya akan mampu bertahan. Dunia fashion adalah dunia yang penuh dengan inspirasi. Karenanya, Oka sangat berharap dapat terus mengadakan workshop untuk memberi inspirasi, dan membagi ilmu serta pengalamannya berkecimpung dalam industri fashion.

Jam menunjukkan pukul 10.00 WIB. Oka pun harus segera bergegas dan bersiap-siap untuk kegiatan fashion show-nya. Satu hal yang tak lupa ia sampaikan, “Fashion dan seni merupakan jiwa saya. Hampir setengah jiwa saya. Kalaupun saya ‘berselingkuh’ pada dunia diving yang saya cintai, itu artinya saya sedang menangkap ribuan inspirasi yang akan saya tuangkan dalam selembar sketsa indah,” tutupnya.

Ritme Panggung Mode

Posted: January 31, 2011 in Uncategorized

Eksistensi Pergerakan Lokal

Posted: September 27, 2010 in Uncategorized

Teks: vera Waloeyo
Foto: Shakti Siddarta, Dok. Sixteendscale

Mereka menciptakan sebuah pasar yang terbentuk karena sebuah produk yang dilahirkan dari idealisme yang tinggi. Sayangnya, kualitas dan manufacturing mereka masih kurang bagus. Namun, jika tidak ditantang, mereka tak akan pernah maju.” -Leonard Theosabrata, Co-founder Brightspot Market-

“Idealism is fine, but as it approaches reality, the costs become prohibitive.” -William F. Buckley-

………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

Tahun 2010 telah menjadi gerbang Asean-China Free Trade Area (ACFTA). Masuknya barang-barang impor dengan harga relatif murah yang didominasi China, sempat dikhawatirkan menggangu roda usaha dalam negeri. Namun, hal ini juga menjadi momentum untuk meningkatkan daya saing pelaku industri lokal. Pengembangan kreativitas yang dibarengi dengan peningkatan kualitas tentu akan menjadi jawaban saat pasar dalam negeri dihadapkan pada serbuan produk impor berharga murah.

Tantangan inilah yang sedang dibuktikan oleh generasi muda kita. Bahwa mereka diibaratkan sebagai pendobrak, memang ada benarnya. Fenomena munculnya desainer muda melalui lini fashion Sixteendscale, G.H.O.S.T, Harrington Home, House Of Jealouxy, Hunting Fields, Magic Happens, Monday To Sunday, Soe.Hoe, Nikicio, Satcas&Sash, Saint And Sinner, Tick Tock, dan Tosavica, membuktikan bangkitnya bisnis kaum muda yang dilandasi oleh idealisme dan semangat youth culture.


Data resmi Badan Pusat Statistik No. 29/05/Th. XIII menyebutkan bahwa pada tahun 2010, industri tekstil pada triwulan pertama mengalami penurunan sebesar 4,35 persen. Akan tetapi data ini seakan berbanding terbalik seiring dengan bermunculannya desainer-desainer muda yang terus unjuk diri berkarya. Angka penjualan yang berhasil diraih lini fashion independen, menurut Agra Satria, Desainer Grafis sekaligus pemilik merek G.H.O.S.T., melesat cukup drastis. Untuk tahun ini, omset produk-produknya bisa meningkat sebanyak 150 persen. Diakuinya, ini adalah efek dari peningkatan apresiasi masyarakat terhadap para desainer muda yang kreatif. Hal yang sama dialami Nina Karina, Creative Director label Nikicio. Pada kuartal 2009 menuju 2010, kenaikan omset yang dicapai sekitar 40 persen. Wendi Suherman (Awey), Founder dan Managing Director dari Sixteendscale juga sumringah menanggapi kenaikan statistik penjualannya sebesar 50 persen.

Fenomena ini mungkin belum saatnya dibilang sebagai terciptanya kultur baru. Namun keadaan ini telah memicu dibuatnya produk berdesain kreatif yang berharga terjangkau secara terbatas. Umumnya sasarannya adalah kelompok atau komunitas anak-anak muda. Uniknya, pasar produk desainer muda ini begitu cepat menyebar. Sandy S. Gunawan, pemilik Tosavica mengatakan, “Produk saya tersebar di butik Magic Happens Bali, Nanonine House Jakarta dan di Level One Grand Indonesia.” Nina Karina mengimbuhi, ia tidak memiliki butik tetap untuk mempromosikan koleksinya. Namun hasil kreativitasnya menyebar di Tribute Jakarta, Komodo Bali, Blackmarket Singapura dan Happy Go Lucky Bandung, dengan sistem konsinyasi. Annisa Hudaya selaku pemilik butik Happy Go Lucky menyambut baik fenomena ini. “Kami bisa dibilang semacam wadah yang menampung produk-produk para desainer muda yang belum memiliki butik tetap,” katanya.

Mengenai produksi terbatas yang merupakan salah satu keunggulan sederet merek tadi, sangat dijaga oleh merek G.H.O.S.T, yang hanya merancang 10 desain aksesori untuk setiap musim. “Setiap desain juga hanya diproduksi sebanyak 5 buah saja. Kami menjaga filosofi brand dan idealisme,” terang Agra. Berbeda dengan G.H.O.S.T yang murni melahirkan idealisme berkarya mereka, Nina bisa dibilang hadir dengan sikap yang sedikit lebih lunak. Pihaknya tidak pernah membatasi jumlah produksi selama market dan demand nya ada. “We are very open minded for wholesale and consignment buyers, “jelasnya. Namun, untuk menjaga eksklusivitas, Nina juga tetap meyakinkan pasar bahwa label nya tidak pernah mengikuti tren. “Moto dari Nikicio adalah we challenge fashion, trends, and gender, mo matter what season or trend that currently occur.”

Atas nama idealisme, mereka memang menebarkan semangat berkarya. Hanya saja, selain ada yang benar-benar berideologi indie, ada pula yang hanya berorientasi bisnis. Hal tersebut dianggap santai saja oleh Sixteendscale. Label tersebut justru mendesain pakaian ready to wear yang sesuai dengan tren pasar. Hal ini diakui Iwey, bahwa label nya memang mengikutigelombang tren. Guna menetralkan hal ini, dibentuklah Kreatif Independen Clohting Komuniti (KICK) yang dikepalai oleh Tubagus Fiki Chikara Satari.

Sebenarnya apa yang dicari oleh para desainer label indie ini? Akankah mereka berideologi kuat dengan segala terobosan, atau hanya berorientasi pada bisnis yang mengikuti selera pasar? Menanggapi tanda tanya tersebut, desainer fashion senior Irsan beropini, bahwa desainer muda sekarang hanya mengejar fame, front row, dan kilau dunia fashion. “Yang saya sayangkan adalah mereka kurang reseach. Karya-karyanya pun menjaditidak timeless. They become very instant, but I respect the human being.” Kartika Sahya Trianindya, Managing Director dari Naima, sebuah lini fashion yang dikhususkan untuk produksi sepatu mengatakan, “Kami mencoba untuk tidak timeless dengan cara mencari inspirasi dari desain Eropa. Hanya saja, perlu digarisbawahi bahwa referensi itu tidak lantas disimpulkan sebagai cara untuk mencontek,” tegasnya. Namun, ia juga mengaku bahwa saat ini kreasinya masih memiliki keterbatasan, terutama dari segi produksi.


Gaung Level One di Grand Indonesia Shopping Centre memang baru beberapa bulan dirasakan. Namun konsep yang diusung cukup mewakili wacana munculnya desainer lokal baru yang berkualitas. Di atas lahan seluas 2.700 meter persegi, Level One terkonsep sebagai wadah kreativitas inovasi kaum muda. Teges Prita Soraya, Senior Marketing Communication Manager Grand Indonesia Shopping Town menyatakan, “Untuk bergabung dengan Level One, kami melakukan seleksi hasil rancangan, konsep, konsistensi desain dan filosofi brand. Mereka adalah up raising local designer. Karenanya, kami memberikan tempat khusus untuk mereka.” Saking optimisnya, ia bahkan berencana membawa mereka mengikuti Trade Show untuk koleksi spring/ summer 2010/ 2011 di Berlin.

Lain halnya dengan Brightspot Market, sebuah medium untuk memfasilitasi karya desainer lokal. Ajang ini biasanya digelar selama 4 hari dalam tiga sampai empat bulan sekali dengan statistik data pengunjung rata-rata mencapai 41.000 per hari. Secara kolektif, angka penjualan brand juga meningkat sebanyak 30 persen. Co-founder Brightspot, Leonard Theosabrata mampu melihat fenomena berkembangnya kreativitas desainer muda tersebut dari dua paradigma yang berbeda. “Saya percaya pada local design. Kemampuan local designer tidak main-main. Mereka menciptakan sebuah pasar yang terbentuk karena sebuah produk yang dilahirkan dari idealisme yang tinggi. Sayangnya, kualitas dan manufacturing mereka masih kurang bagus. kurang rapi. Namun, jika tidak ditantang, mereka tak akan pernah maju.”

Lepas dari jungkir balik dan kritikan yang mungkin terjadi di dalamnya, desainer muda dipastikan akan terus muncul selama industri fashion terus berkembang. Departemen Pendidikan Nasional bahkan telah menyebutkan industri fashion sebagai salah satu dari 14 sektor industri kreatif di Indonesia. Para desainer muda ini berusaha membangkitkan kreativitas dengan sentuhan bisnis dan idealisme yang tinggi. Anda mungkin sepaham, bahwa tanpa idealisme, suatu produk hanya akan terlihat sebagai suatu produk. Pertanyaannya, mampukah mereka mempertahankan sisi idealisme itu di tengah bergejolaknya dunia bisnis yang sangat menggiurkan?